Ditulis oleh iponghp di/pada Agustus 1, 2009
Apakah arti kemerdekaan bagi sebagian orang ini?
Mereka masih meniti kehidupan dengan tantangan yang ada,
Menapakkan kaki untuk melangkah ke depan,
Dengan beban di pundak yang terasa,
Yang makin lama tidak berkurang,
Menambah terseoknya langkah kaki terayun,
Menuju waktu yang selalu menunggu di depan,
Untuk diselami dan diterjang.
Mereka masih harus menyelesaikan rangkuhan itu,
Mengurai satu persatu,
Dari pintalannya yang tidak teratur,
Ujud garapan dari tangan yang tak trampil,
Memilih dan menandai,
Mengabaikan dan menghiraukan,
Hingga ujung bertemu dengan ujung,
Yang menelan waktu begitu dalam.
Merekapun masih memendam harapan ke depan,
Memindai apa yang menahan rajutan terlanjur kumal,
Menata jalan yang ada menjadi lebih lapang,
Dengan iringan waktu yang selalu menekan,
Untuk segera lepas dari jeratan yang mencengkeram.
Akankah kemerdekaan ini menolong mereka untuk bebas dari kumpulan itu?
Ditulis dalam puisi | Leave a Comment »
Ditulis oleh iponghp di/pada Juli 30, 2009
Ketika ibadah terasa hambar
Mungkin sebagian kita pernah merasakan ketika melakukan ibadah terasa hambar, padahal seharusnya ibadah adalah suatu kenikmatan bagi seorang muslim. Syaikh Al-bany dalam muqodimah kitab Shalat-Shalat Nabi, beliau berkata : Segala puji bagi Allah yang telah memfardhukan shalat atas hamba-hambaNya, dan memerintahkannya untuk menegakkannya dengan cara membaguskan pelaksanaannya dan menggantungkan keselamatan dan kesuksesan pada kekhusyuan shalat.”
Subhanallah…, sebagian orang mungkin menganggap bahwa kewajiban shalat merupakan beban. Tetapi dikatakan oleh Syaikh Al-bany bahwa itu sebagai sesuatu yang perlu disyukuri, hal ini karena ibadah tersebut kembalinya untuk kemaslahatan sang hamba. Ibadah terasa hambar merupakan tanda sakitnya qolbu seseorang. Kalau sudah begini, apa yang harus dilakukan? Apakah ibadah tersebut harus ditinggalkan?
Dalam kajian beberapa waktu yang lalu, seorang ustadz menasehatkan bahwa ketika seseorang melakukan ibadah tetapi terasa hambar, tidak nikmat, maka yang seharusnya dilakukan adalah dengan terus mengerjakannya. Bukan kemudian ditinggalkan. Dengan terus-menerus melaksanakan ibadah tersebut, maka iman berangsur-angsur naik dan kemudian dapat merasakan lezatnya ibadah.
Terasa hambarnya ibadah itu tanda bahwa qolbunya sakit. Sebagaimana badan yang sakit, walaupun diberi makanan yang enak-enak, tetap saja tidak selera memakannya. Tidak dapat merasakan lezatnya makanan tersebut. Terasa tidak lezatnya makanan tersebut bukan karena makanannya yang tidak enak, tetapi memang badannya yang sedang tidak beres. Nah kalau kondisinya seperti ini, apakah mending tidak usah makan saja?
Kalau tidak makan, justru dapat mengakibatkan sakitnya tambah parah. Yang harus dilakukan adalah tetap makan walaupun tidak terasa lezat. Lama kelamaan kondisi tubuhnya membaik dan kemudian dapat merasakan lezatnya makanan tersebut.
Jika seseorang berbuat dosa, maka akan timbul titik hitam dalam qolbunya. Jika berbuat dosa lagi, maka bertambahlah titik hitam tersebut. Jika dia bertaubat maka hilanglah titik hitam tersebut. Jika seseorang beramal shalih, maka itu juga akan menghapus kejelekan-kejelekannya.
Ditulis dalam Renungan | Leave a Comment »
Ditulis oleh iponghp di/pada Juli 28, 2009
(diambil dari sebuah sumber dan terinpirasi oleh suara tertawa mbah Surip)
Sains akhirnya berhasil mengejar sesuatu yang telah kita ketahui selama ini, bahwa tertawa itu bagus buat kita semua. Seperti juga yang dikemukakan dalam suatu peribahasa, “ Hati yang ceria adalah obat yang manjur.”
Tawa dapat memperbaiki sirkulasi darah kita, melatih otot-otot perut, memperbaiki frekuensi detak jantung, membuang udara basi dari paru-paru, membantu pencernaan, dan melepaskan ketegangan otot. Setelah tertawa cukup lama, tekanan darah kita turun ke kadar yang lebih sehat. Menurut peneliti tawa William F. Fry, seratus tawa member manfaat yang sama pada jantung seperti mendayung selama sepuluh menit.
Selain itu, para peneliti yang bekerja di bidang baru psikoneuroimunologi, yaitu kajian mengenai dampak status psikologis pada fungsi kekebalan, telah menemukan bahwa tawa memberi dampak yang menguntungkan pada system kekebalan. Sementara emosi-emosi yang membuat stress memicu keluarnya kortisol dan aldosteron, yang dapat mengurangi kekebalan dengan menurunkan jumlah sel-T kita, tawa justru sebaliknya. Ia juga mengaktifkan sel-sel pembunuh virus dan interferon-gamma, menurunkan kadar epinefrin neurotransmitter kita yang terkait stress (adrenalin), menaikkan kadar imunoglobin, dan meningkatkan produksi neuropeptides alamiah yang dapat mengurangi rasa sakit, misalnya endorphin.
Psikolog Peter Derks, dengan menggunakan catatan EEG, telah bekerja keras untuk meningkatkan pemahaman kita akan penopang neurologis tawa. Ketika kita mendengarkan sebuah lelucon, pusat-pusat bahasa di belahan kiri kita mulai menjalankan tugas memroses kata-kata. Dalam hitungan seperseribu detik, wilayah-wilayah emosi di cuping depan mati, yang langsung diikuti oleh wilayah-wilayah belahan kanan yang bertanggungjawab melakukan pendekatan atau menemukan keganjilan untuk memahami suatu lelucon. Dalam hitungan seperseribu detik, ini diikuti dengan partisipasi wilayah pemrosesan indra di area belakang kepala, dan akhirnya gelombang delta membasuh seluruh korteks otak kita ketika kita menangkap lelucon itu dan mulai tertawa. Sebagian orang berspekulasi bahwa potensi humor berasal aktivasi begitu banyak wilayah otak dalam usaha yang luar biasa kompleks dan terpadu ini.
Karena itu, ayo kita tertawa ha ha ha ……..
Ditulis dalam selingan | Leave a Comment »
Ditulis oleh iponghp di/pada Juli 26, 2009
Seolah senyuman dan sapaanmu yang selalu kamu tunjukkan setiap aku menatapmu,
itu berdesir di kedua telingaku.
Seakan kehadiranmu dengan sosok yang menggemaskan,
itu menari luwes di kornea mataku.
Seakan suara tawa dan candamu yang menggodaku untuk menanggapi,
itu memenuhi ruangan di tempatku berada.
Seolah, seakan dan serasa semua itu begitu setia mengiringiku dalam setiap langkah di jalan hidup ini.
Namun itu belumlah cukup untuk menenteramkan hati yang galau ini,
hati yang resah, hati yang kosong, hati yang hancur.
Ketiadaanmu membuat ruang dalam jalan hidup yang kutempuh serasa sesak,
dipenuhi hambatan maya yang menggantung di depan setiap langkah,
yang memagari sisi jalan setiap arah tujuan.
Kejauhanmu membuatku selalu terisak di dalam doaku ke Yang Maha Esa,
membuatku menggulirkan butiran airmata saat kupandang foto kita bersama,
menggoreskan luka bersalah di hatiku setiap mengingatmu.
Aku sangat merindukanmu,
Aku sangat kehilangan kamu.
Ditulis dalam puisi | Leave a Comment »
Ditulis oleh iponghp di/pada Juli 16, 2009
Kaki ini mulai melangkah perlahan,
Walaupun terseok, namun pasti maju ke depan
Meninggalkan yang pernah dilalui,
Menghalaukan kenangan yang merasuk dalam.
Dalam helaan nafas yang diambil,
Dalam hitungan waktu untuk menata kekuatan kembali,
Sejenak kepala ini menoleh kembali.
Terlihat gumpalan bayangan yang samar,
Terkumpul dalam luasan yang mengembang,
Seakan mengikuti kemana kaki ini melangkah,
Seolah tidak rela melepas perginya tubuh ini.
Helaan nafas kembali menjadi topangan,
Kenangan itu harus dikibaskan kembali,
Untuk menatap ke depan yang telah menanti,
Walaupun damai belum pasti mendekat.
Ditulis dalam puisi | Leave a Comment »
Ditulis oleh iponghp di/pada Juli 15, 2009
Menatap awan di atas sana,
Yang bergelayut mesra di tangan sang langit,
Yang menahan kehangatan sinar mentari di pagi hari,
Yang bergerak berarakan, bergelombang,
Seakan takut terlepas dari suatu ikatan kuat,
Serasa enggan lepas dari dekapan sang dewi,
Menggapai rona cerah yang mengitarinya.
Sang awan tetaplah menjadi awan,
Yang selalu ada di atas tempat tanah kupijak,
Yang selalu menaungi yang ada di bawah,
Yang selalu bergerak ke segala arah,
Yang selalu dapat memberikan keteduhan di kala terik matahari,
Yang selalu mampu mencurahkan titik air selagi bumi dahaga. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam puisi | Leave a Comment »
Ditulis oleh iponghp di/pada Juli 9, 2009
Biarkan Tuhan Menilaimu.
Apabila engkau berbuat baik, orang lain mungkin akan berprasangka bahwa ada maksud-maksud buruk di balik perbuatan baik yang kau lakukan. Tetapi, tetaplah berbuat baik. Terkadang orang berpikir secara tidak masuk akal dan bersikap egois. Tetapi, bagaimanapun juga, terimalah mereka apa adanya.
Apabila engkau sukses, engkau mungkin akan mempunyai musuh dan juga teman yang iri hati atau cemburu. Tetapi teruskanlah kesuksesanmu itu. Apabila engkau jujur dan terbuka, orang lain mungkin akan menipumu. Tetapi, tetaplah bersikap jujur dan terbuka.
Apa yang telah engkau bangun bertahun-tahun lamanya, dapat dihancurkan orang dalam satu malam saja. Tetapi, janganlah berhenti dan tetaplah membangun. Apabila engkau menemukan kedamaian dan kebahagiaan di dalam hati, orang lain mungkin akan iri hati kepadamu. Tetapi, tetaplah berbahagia.
Kebaikan yang kau lakukan hari ini, mungkin besok dilupakan orang. Tetapi, teruslah berbuat baik. Berikan yang terbaik dari apa yang kau miliki, dan itu mungkin tidak akan pernah cukup. Tetapi, tetap berikanlah yang terbaik.
Sadarilah bahwa semuanya itu ada di antara engkau dan Tuhan. Tidak akan pernah ada antara engkau dan orang lain. Jangan pedulikan apa yang orang lain pikir atas perbuatan baik yang kau lakukan. Tetapi percayalah bahwa mata Tuhan tertuju pada orang-orang jujur dan Dia sanggup melihat ketulusan hatimu.
Ditulis dalam Renungan | Leave a Comment »
Ditulis oleh iponghp di/pada Juli 9, 2009
Waktu ini rasanya berjalan melambat,
Semua yang bisa dilakukan telah menuai hasil,
Apa yang diharapkan sudah memberi bukti,
Namun waktu inipun belum beranjak pergi,
Bergelayut disekujur tubuh,
Mengikuti setiap loncatan kaki yang panjang.
Mengiringi tarikan tangan melambai,
Membebani dalam meniti langkah ke depan.
Waktu ini sepertinya masih mengelilingiku,
Memagariku dalam bayangan maya,
Mengitariku laksana lingkaran tak terpatahkan,
Mengunciku dan meminta perhatian yang lekat.
Waktu inipun belum akan pergi,
Tetap bersamaku di belakang dan di depanku.
Ditulis dalam puisi | Leave a Comment »
Ditulis oleh iponghp di/pada Juli 7, 2009
Semoga kita dapat mengambil hikmah dari apapun yang kita alami. Berusaha terus, untuk menjadi lebih baik dimata Sang Pencipta. Sambil terus introspeksi apakah kita telah mendzalimi orang lain, apakah kita tanpa terasa telah menjadi orang fasik, apakah kita tanpa terasa telah mengambil hak orang lain? Jadilah tangan yang di atas, yang selalu berpikir dan bertindak untuk memberi , baik harta maupun ilmu, kepada orang lain.
Jangan biarkan keburukan datang dari diri kita. Berusahalah untuk selalu tawadhu, rendah hati, berbaik sangka, berbudi bahasa baik, tidak merendahkan/meremehkan orang lain. Jangan tinggi hati. Seburuk-buruk manusia pasti ada sisi kebaikannya, sebaik-baik manusia pasti ada kekurangannya.
Jangan kita terperosok kepada kufur nikmat. Banyak yang telah kita terima dari Sang Maha Pemberi, tetapi kita selalu merasa kurang. Jauh lebih banyak orang yang lebih menderita dari pada kita di dunia ini. Jangan pernah mengecilkan kebaikan yang telah kita terima.
Sebelum “menyeberangkan mata”, lihatlah sekeliling kita, teman-teman kita yang dekat. Apa yang sudah kita berikan kepada mereka? Rasa hormat? Kasih sayang? Apresiasi? Jangan memupuk sikap arogan dan melecehkan . Yang paling mudah memang melihat kekurangan, kemudian mengeluh bahkan mencaci. Sementara kebaikan, yang mungkin lebih banyak tetapi tidak pernah terutarakan, jarang mendapat pujian.
Bila melihat kekurangan, bantulah dengan cara yang baik. Yang kurang harta, bantu dengan harta. Yang kurang ilmu, bantu dengan ilmu. Jangan jadi orang yang selalu menuntut kebaikan dari orang lain, tetapi jarang memberi kebaikan pada yang lain. Jadilah sumber kebaikan bagi siapapun dengan cara yang baik pula.
Teruslah berbuat baik,lillahi ta’ala.
Ditulis dalam Renungan | Leave a Comment »
Ditulis oleh iponghp di/pada Juli 4, 2009
Bagian 1
CEO sebuah perusahaan tertentu dihadapkan pada suatu masalah yang sudah sering muncul, yaitu pengurangan pegawai.
“Kita harus memotong daftar gaji hingga separuh,” dia menjelaskan kepada asistennya, “Tapi, bagaimana aku bisa memastikan bahwa orang-orang yang dipecat tidak akan kembali dengan senjata di tangan? Ada banyak kejadian semacam itu, kamu tahu.”
“Tidak masalah,” sahut asistennya, yang lebih tahu tentang logika maupun psikologi manusia. “Jangan memecat siapapun. Biarkan mereka mengundurkan diri sendiri. Dengan cara itu, mereka tidak bisa menyalahkan anda. Biar saya yang menangani ini.”
Asisten itu memanggil setiap pegawai ke kantornya, satu demi satu. Ketika setiap pegawai masuk, asisten tersebut menjelaskan bahwa di atas mejanya ada dua buah amplop. Yang satu berisi surat pemberhentian, sementara yang satu lagi berisi perpanjangan kontrak.
“Yang harus kaulakukan,” katanya kepada setiap pegawai sambil mengedipkan matanya, ‘adalah mengambil amplop yang tepat.”
“Bagaimana saya tahu amplop mana yang harus diambil?” pegawai itu bertanya.
“Sederhana. Baca saja apa yang tertulis pada amplop.” Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Permainan | Leave a Comment »