Ditulis oleh iponghp di/pada Oktober 14, 2009
Cerita ini nyata, seperti yang saya alami sendiri. Cocok juga dimasukkan ke rubrik khusus-nya KR Jogja, yaitu “sungguh-sungguh terjadi.”
Malam itu, sepulang dari rumah ortu yang terletak di arah barat kota Jogja, kami sekeluarga tidak bisa menahan ketawa ketika mobil kami dihentikan oleh lampu lalulintas di perempatan jalan besar itu. Saat itu lalulintas cukup padat, banyak motor di sekitar mobil kami. Maklum, malam juga belum larut dan suasana libur lebaran masih sangat kentara. Lalu kenapa kami berlima bisa tertawa terbahak-bahak?
Awal mulanya, lepas dari gang masuk rumah ortu, istri saya bilang kalau tadi lihat sesuatu yang menyerupai gadis kecil, sedang berdiri di pojok rumah ortu saya. Sesuatu itu kelihatannya ikut “mengantarkan” kita yang kala itu berpamitan ke ortu, karena esok harinya sudah harus balik ke kota asal. “Makanya tadi adik (yang bontot) sempat senyum sendirian kan sewaktu kita lewat,” begitu penjelasan istri. Mendengar cerita ini, anak nomer 1 dan 2 sudah saling berebut untuk bertanya lebih detil. Mereka bertanya ke adiknya, bagaimana rupa “si-mbak”nya tadi. Saya tidak tahu, kenapa anak-anak sekarang sangat “ingin tahu” tentang hal ini ya. Apakah ada pengaruh dari acara TV yang lebih banyak menayangkan hal-hal ginian?
Lalu cerita berlanjut jauh. Diceritakan oleh istri saya, sewaktu malam menjelang lebaran, saat rumah ortu penuh dengan anak dan cucunya, istri dapat melihat “seseorang” yang sudah tua, nenek-nenek, dengan memakai baju kebaya,sedang menyisir rambut panjangnya yang putih. Seseorang ini duduk santai di dekat sebuah lemari yang terletak di halaman belakang, dekat dengan kolam ikan. Saat itu, ibu-ibu dan anak-anak memang sedang bercengkerama di halaman belakang, sedang bapak-bapaknya ngobrol di ruang depan. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam cerita | 1 Komentar »
Ditulis oleh iponghp di/pada September 9, 2009
Dari wikipedia : kata Manajemen berasal dari bahasa Prancis kuno ménagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur. Manajemen belum memiliki definisi yang mapan dan diterima secara universal. Mary Parker Follet, misalnya, mendefinisikan manajemen sebagai seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini berarti bahwa seorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi. Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal.
He he saya tidak akan mengulas arti kata managemen tersebut, karena memang bukan lulusan fakultas managemen (walaupun pernah menerima managemen teknik 2 sks semasa kuliah). Saya menyadur arti kata managemen dari wikipedia di atas didasari pada apa yang saya lihat di sebuah tempat bisnis yang sangat terkenal di kota metropolitan beberapa hari yang lalu. Mungkin hal yang membuat mata dan pikiran saya menjadi tertarik pada suatu pemandangan tersebut tidak akan terjadi apabila saya cukup kuat menahan bau khas barang dagangan yang cukup menyengat di sebuah toko. Bau tersebut, selain menusuk hidung juga bisa membuat mata berlinangan air mata.
Ketika saya sedang berdiri di depan pintu masuk toko itu, melihat sekeliling yang penuh dengan lalu lalang mobil mencari tempat parkir, ditambah dengan orang-orang yang berjalan perlahan, serta ditingkahi dengan suara peluit tukang parkir (tidak ada yang menawarkan dagangan makanan, karena bulan puasa), saya tertarik dengan adanya seorang buta yang sedang berhenti di pinggir jalan sesak itu. Dia membawa tongkat penunjuk jalan, kertas plastik serta mencangklong tas yang cukup besar ukurannya di depan dadanya. Cukup menarik perhatian, karena selagi orang dan mobil lalu lalang, dia dengan cueknya berhenti di pinggir jalan. Tangannya dimasukkan ke dalam tas yang dicangklongnya dan kelihatan sedang menyetel atau memutar sesuatu. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam cerita | Leave a Comment »
Ditulis oleh iponghp di/pada Februari 3, 2009
(Taken from The Book of Virtues > This tale about the eternal struggle between truth and falsehood is told in Ethiopia and other eastern African nations)
Long ago Truth, Falsehood, Fire, and Water were journeying together and came upon a herd of cattle. They talked it over and decided it would be fairest to devide the herd into four parts, so each could take home on equal share. But Falsehood was greedy and schemed to get more for himself.
“Listen to my warning,” he whispered, pulling Water to one side. “Fire plans to burn all the grass and trees along your banks and drive your cattle away across the plains so he can have them for himself. If I were you, I’d extinguish him now, and then we can have his share of the cattle for ourselves.”
Water was foolish enough to listen to Falsehood, and he dashed himself upon Fire and put him out.
Next Falsehood crept toward Truth. ‘Look what Water has done,” he whispered. “He has murdered Fire and taken his cattle. We should not consort with the likes of him. We should take all the cattle and go to the mountains.” Truth believed Falsehood and agreed to his plan. Together they drove the cattle into the mountains. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam cerita | Leave a Comment »
Ditulis oleh iponghp di/pada Februari 1, 2009
(Taken from The Book of Virtues > Variations on this story about cooperation and communal effort were common in classical antiquity. The version below reminds us of the responsibility involved in the division of labor. It also reminds us that industry keeps the whole body healthy, and that those who live on nothing but complaints may well die fasting)
Once a man had a dream in which his hands and feet and mouth and brain all began to rebel against his stomach. “You good-for-nothing sluggard!” the hands said. “We work all day long, sawing and hammering and lifting and carrying. By evening we’re covered with blisters and scratches, and our joints ache, and we’re covered with dirt. And meanwhile you just sit there, hogging all the food.”
“We agree!” cried the feet. “Think how sore we get, walking back and forth all day long. And you just stuff yourself full, you greedy pig, so that you’re that much heavier to carry about.”
“That’s right!” whined the mouth. “Where do you think all that food you love comes from? I’m the one who has chew it all up, and as soon as I’m finished you suck it all down for yourself. Do you call that fair?”
“And what about me?” called the brain. “Do you think it’s easy being up here, having to think about where your nex meal is going to come from? And yet I get nothing at all for my pains.” And one of the parts of the body joined the complaint against stomach, which didn’t say anything at all.
“I have Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam cerita | Leave a Comment »