Kalimalang
Posted by distafana pada April 8, 2011
Di atas tubuhmu yang relative mulus,
Antara Senin sampai Jumat,
Aku meluncur dengan roda empatku,
Dengan kedua kaki yang harus siap setiap waktu,
Karena pegangan yang belum matic,
Maka melajulah si hitam disela keengganan mentari bersinar.
Selalu saja sama,
Begitu banyak roda empat maupun separuhnya,
Yang merayapi gelapnya tubuhmu,
Baik yang satu lajur denganku,
Ataupun yang melawan.
Namun selalu saja lajurku berjibun.
Para penerus bangsa kita ini,
Yang harus tiba di bangsalnya sebelum waktu gerbang tutup,
Yang telah diajukan 30 menit dari sebelumnya,
Untuk atasi menggelontornya desakan si macet.
Ah si oplet biru,
Yang tak pernah punya empati,
Bertahan di tepi,
Ntuk tunggu penumpang menaikimu,
Tak pedulikan terompet orang lain berteriak nyalang,
Di belakangmu.
Oplet oplet biru,
Memang kamu penguasa jalanan ini.
Sementara si tua di depanku,
Menggenjot sepeda tuanya perlahan,
Dengan dua tenggok besar di sisimu,
Berisikan pisang dan kates,
Sebagai bahan jualan di pasar,
Beriringan dengan roda empat mewah,
Pak tua itupun berjalan pasti dengan gagahnya,
Sekedar akan dapatkan uang harian.
Ah saat aku di belakangnya,
Sekilas dua tenggok itupun membentuk huruf u terbalik,
Seakan teringat sesuatu yang kubaca semalam,
U terbalik ini bisa seharga triliunan rupiah,
Yang akan jadi rumah wakil wakil rakyat,
Wakilnya pak tua yang mengayuh pelan,
Wakilnya rakyat rakyat kecil yang bejibun jumlahnya di negeri ini,
Rumahnya orang orang terhormat yang harus dihargai,
Karena turut memikirkan nasib pak tua,
Memikirkan ruwetnya oplet yang ada,
Memikirkan kemacetan yang tiada punah,
Di jalanan beraspal ini.
Kalimalang,kalimalang,
Kenapa namamu malang benar,
Kenapa dulu tidak dinamain kalimujur,
Atau juga kaliuntung,
Kenapa harus kalimalang,
Kenapa malang,
Kenapa semalang u terbalik tadi,
Yang harus kekeh dibangun.
EmPe berkata
Akhirnya akrab juga dengan kemacetan kota Jakarta. Selamat menikmati dan mengurai obyek-obyek yang demikian banyak di kota metropolitan nan megah dan hingar bingar ini. Dan KaliMalang akan tetap dalam posisi Malang (jw. “melintang” atau memotong suatu wilayah), dan dia tak akan menjadi KaliMbujur (membujur, mengikuti garis wilayah), karena posisi alamiahnya seperti itu. Hanya manusia saja yang mampu membelak-belok, menyimpang, berjalan lurus, melintang ataupun membujur…