Dan nenek tua itupun tertawa lepas……
Ditulis oleh iponghp di/pada Oktober 14, 2009
Cerita ini nyata, seperti yang saya alami sendiri. Cocok juga dimasukkan ke rubrik khusus-nya KR Jogja, yaitu “sungguh-sungguh terjadi.”
Malam itu, sepulang dari rumah ortu yang terletak di arah barat kota Jogja, kami sekeluarga tidak bisa menahan ketawa ketika mobil kami dihentikan oleh lampu lalulintas di perempatan jalan besar itu. Saat itu lalulintas cukup padat, banyak motor di sekitar mobil kami. Maklum, malam juga belum larut dan suasana libur lebaran masih sangat kentara. Lalu kenapa kami berlima bisa tertawa terbahak-bahak?
Awal mulanya, lepas dari gang masuk rumah ortu, istri saya bilang kalau tadi lihat sesuatu yang menyerupai gadis kecil, sedang berdiri di pojok rumah ortu saya. Sesuatu itu kelihatannya ikut “mengantarkan” kita yang kala itu berpamitan ke ortu, karena esok harinya sudah harus balik ke kota asal. “Makanya tadi adik (yang bontot) sempat senyum sendirian kan sewaktu kita lewat,” begitu penjelasan istri. Mendengar cerita ini, anak nomer 1 dan 2 sudah saling berebut untuk bertanya lebih detil. Mereka bertanya ke adiknya, bagaimana rupa “si-mbak”nya tadi. Saya tidak tahu, kenapa anak-anak sekarang sangat “ingin tahu” tentang hal ini ya. Apakah ada pengaruh dari acara TV yang lebih banyak menayangkan hal-hal ginian?
Lalu cerita berlanjut jauh. Diceritakan oleh istri saya, sewaktu malam menjelang lebaran, saat rumah ortu penuh dengan anak dan cucunya, istri dapat melihat “seseorang” yang sudah tua, nenek-nenek, dengan memakai baju kebaya,sedang menyisir rambut panjangnya yang putih. Seseorang ini duduk santai di dekat sebuah lemari yang terletak di halaman belakang, dekat dengan kolam ikan. Saat itu, ibu-ibu dan anak-anak memang sedang bercengkerama di halaman belakang, sedang bapak-bapaknya ngobrol di ruang depan.
Penglihatan tersebut tidaklah lama, tetapi jelas. Saya bilang, penampakan itu sangat mirip dengan sosok almarhumah eyang putri yang sudah lama meninggal. Anak-anakpun jadi lebih seru dalam membahasnya. Saya juga sempat bercerita tentang kebiasaan almarhumah dulu, seperti menyisir rambut panjangnya, bermain solitaire dengan kartu kesayangannya untuk mengisi waktu, dan lain-lain. Lalu tibalah saya harus menghentikan mobil karena lampu merah menyala.
Beberapa saat kemudian, anak kedua, yang duduk di kursi depan, menepuk pundak saya seraya berkata “ Bapak”, dengan nada suara yang tidak jelas. Sayapun menoleh ke arahnya dan seketika darah saya seakan tersedot habis…..Terlihat dengan jelas, sesosok wajah nenek tua di kaca kiri depan. Menatap saya dengan lekat.
Ada beberapa tarikan nafas yang serasa tidak berirama saat itu ketika saya sedang memastikan apakah yang nampak itu adalah “perwujudan” dari cerita kami sebelumnya ataukah sosok yang nyata. Setelah hati meyakinkan, maka tersenyumlah saya dan malah menjadi tertawa. Mendengar saya tertawa, anak saya yang disamping juga ikut tertawa, kemudian diikuti oleh istri dan kedua anak di belakang. Mungkin melihat yang di dalam mobil tertawa, maka nenek tua itupun tertawa dengan lepas, sampai terguncang badannya, dengan memperlihatkan barisan giginya yang tidak rata dan sudah mulai bolong-bolong. Melihat ini, kamipun tambah meledak tertawanya.
Cukup lama juga kami, yang ada dalam mobil, dan nenek tua, yang di luar, tertawa lepas. Kemudian akhirnya saya sadar bahwa nenek tua itu mengharapkan sesuatu dari kami, seperti yang biasa diminta oleh orang-orang atau anak-anak di traffic light, di seluruh tempat di Indonesia ini. Ya mereka adalah bagian dari orang-orang jalanan, yang mengharapkan rejeki dari belas kasihan orang yang lewat jalan tempat mereka mengadu nasib.
Selepas lampu hijau menyala, pengalaman dengan nenek tua, yang nyata, itu menjadi perbincangan yang hangat. Gelak tawa masih terdengar dengan jelas, terutama dari anak kedua yang duduk di samping saya, yang langsung berhadapan dengan sosok nenek tua itu.
Andira berkata
hahaha bapak aku baca nya jdi ketawa lg dech…pokoknya itu pengalaman pling seru di JoGJA…..
huhuhuhhahahahahahhahaah…………….jdi ketawa………