Asah Otak (7)
Ditulis oleh iponghp di/pada Juli 4, 2009
Bagian 1
CEO sebuah perusahaan tertentu dihadapkan pada suatu masalah yang sudah sering muncul, yaitu pengurangan pegawai.
“Kita harus memotong daftar gaji hingga separuh,” dia menjelaskan kepada asistennya, “Tapi, bagaimana aku bisa memastikan bahwa orang-orang yang dipecat tidak akan kembali dengan senjata di tangan? Ada banyak kejadian semacam itu, kamu tahu.”
“Tidak masalah,” sahut asistennya, yang lebih tahu tentang logika maupun psikologi manusia. “Jangan memecat siapapun. Biarkan mereka mengundurkan diri sendiri. Dengan cara itu, mereka tidak bisa menyalahkan anda. Biar saya yang menangani ini.”
Asisten itu memanggil setiap pegawai ke kantornya, satu demi satu. Ketika setiap pegawai masuk, asisten tersebut menjelaskan bahwa di atas mejanya ada dua buah amplop. Yang satu berisi surat pemberhentian, sementara yang satu lagi berisi perpanjangan kontrak.
“Yang harus kaulakukan,” katanya kepada setiap pegawai sambil mengedipkan matanya, ‘adalah mengambil amplop yang tepat.”
“Bagaimana saya tahu amplop mana yang harus diambil?” pegawai itu bertanya.
“Sederhana. Baca saja apa yang tertulis pada amplop.”
Pada amplop-amplop itu terdapat instruksi sebagai berikut:
SAMPUL A : Ambil aku! Di dalam sini ada perpanjangan kontrak
SAMPUL B : Mungkin di dalam sini atau di dalam amplop lain ada surat pemberhentian
“Apakah instruksi-instruksi ini benar dan akurat?” tanya pegawai itu. “Hanya satu,” jawab sang asisten.
“Yang mana?”
“Jika kuberitahu,” asisten menjawab dengan nada menasihati, “berarti aku tidak mengakui kesempatanmu untuk membuktikan nilai lebihmu bagi perusahaan. Jika kau tidak bisa memutuskan sendiri, berarti kau tidak layak mendapatkan perpanjangan kontrak.”
Jika anda pegawai di situ, amplop mana yang akan anda pilih dan mengapa?
Bagian 2
Keesokan harinya, sang CEO belum juga puas.
“Kau telah membuat sepuluh orang pegawai menebak-nebak, dan mereka semua telah mengambil amplop yang tepat. Kupikir, usahamu itu tidak cukup berhasil.”
Maka asisten itu setuju untuk mengambil cara lain. Kini, dia menjelaskan kepada setiap pegawai bahwa dia punya dua amplop; dua-duanya mungkin berisi surat pemberhentian, atau dua-duanya mungkin berisi perpanjangan kontrak; atau yang satu mungkin berisi surat pemberhentian dan yang satu lagi perpanjangan kontrak. Dia menyerahkan salah satu amplop dengan tangan kirinya, dan amplop yang lain dengan tangan kanannya. Jika amplop tangan kiri berisi perpanjangan kontrak, instruksi-instruksi pada amplop itu benar; tetapi jika itu surat pemberhentian, instruksi-instruksi pada amplop itu salah. Untuk amplop tangan kanan, jika di situ ada perpanjangan kontrak, instruksi-instruksinya salah; jika ada surat pemberhentian, instruksi-instruksinya benar.
Amplop-amplop itu berisi instruksi sebagai berikut :
AMPLOP KIRI : Tidak ada bedanya amplop mana yang kau ambil
AMPLOP KANAN : Amplop yang satunya isi perpanjangan kontrak
Jika anda pegawai perusahaan itu, amplop mana yang akan anda pilih dan mengapa?
Bagian 3
Hari ketiga, CEO merasa semakin jengkel.
“Dua puluh pegawai sekarang sudah menjawab teka-tekimu, dan mereka semua lolos! Ini tidak membuatku memecahkan masalah daftar gaji. Kau harus membuat teka-teki yang lebih sulit.”
Asisten itu berpikir sebentar.
“Para pegawai yang tinggal semuanya sangat cerdas. Saya tidak tahu apakah saya dapat membuat teka-teki yang cukup sulit bagi mereka. Dan meskipun satu-dua di antara mereka membuat kesalahan, daftar gaji tidak akan bisa dipotong hingga separuh. Tetapi masih ada satu solusi yang belum saya coba.”
“Kalau begitu, cobalah. Dan jika itu tidak berhasil menjelang penutupan rapat pemegang saham besok,” CEO menambahkan dengan pandangan mengancam, “aku tahu setidaknya-tidaknya ada satu kepala yang terpenggal.”
Pada rapat keesokan harinya, asisten itu berdiri untuk menjelaskan masalahnya kepada para pemegang saham utama yang telah berkumpul. Dia menutup pidatonya dengan perkataan sebagai berikut ini:
“Sampai sekarang, daftar gaji masih dua kali lipat daripada yang seharusnya. Masalahnya adalah semua pegawai terlalu cerdas sehingga mereka tidak mengambil surat pemberhentian. Tetapi, para pemegang saham hendaknya mengetahui,” katanya sambil mengarahkan pointernya pada bagan yang telah disiapkannya pada malam sebelumnya, “bahwa separuh daftar gaji diambil untuk membayar satu orang tenaga eksekutif.”
Wajah sang CEO langsung pucat.
“Jika,” asisten itu berkata, “kita dapat menemukan cara yang sah untuk meralat situasi ini, masalah daftar gaji kita akan bisa teratasi dengan segera. Karena itu, saya mengusulkan untuk mengajukan teka-teki paling sulit untuk orang dengan penghasilan terbesar: CEO!”
Para pemegang saham menggumamkan persetujuan mereka.
Sambil berpaling kepada CEO, asisten itu menjelaskan sebagai berikut:
“Di sini,Pak, saya memberikan tiga amplop.”
“Tiga amplop!” seru sang CEO. “Itu tidak adil! Para pegawai lain hanya memilih dua amplop.”
“Benar, tetapi anda menyuruh saya untuk membuat teka-teki yang lebih sulit. Dan,” asisten itu menambahkan dengan kedipan kecil, “tentunya anda paling sedikit 50% lebih cerdas daripada pegawai biasa itu. Bagaimanapun juga, gaji anda lima puluh kali lebih besar.”
Sang CEO melotot, tetapi terpaksa menahan lidahnya.
“Dari tiga amplop ini,” lanjut sang asisten, “yang satu berisi perpanjangan kontrak. Dua lainnya berisi surat pemberhentian. Seperti biasa, pada setiap amplop ada pernyataan tertulis di atasnya. Tidak lebih dari satu yang benar. Amplop mana yang anda pilih?”
Ketiga amplop itu ditulisi pernyataan sebagai berikut:
AMPLOP A : Amplop ini berisi surat pemberhentian
AMPLOP B : Amplop ini berisi kontrak
AMPLOP C : Amplop ini berisi surat pemberhentian
Amplop mana yang anda pilih dan mengapa?
Bagian 4
Pada akhir pertemuan, masalah daftar gaji telah terpecahkan dan para pemegang saham pulang dengan gembira.
Teka-teki terakhir; apakah CEO memilih amplop yang tepat?