Catatan R O M O P O N G

  • SELAMAT DATANG

    Buat pengunjung, saya ucapkan selamat datang di blog ini. Silakan membaca dan semoga bermanfaat. Terima kasih atas kunjungannya.
  • Meta

  •  

    Juni 2009
    S S R K J S M
    « Mei   Jul »
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  
  • Nusantara I (Koes Plus)

    Kuharap kau tidak akan cemburu. Melihat hidupku. Hidupku bebas selalu kawanku. Tiada yang memburu, o..oo..ooo. Di Nusantara yang indah rumahku. Kamu harus tahu. Tanah permata tak kenal kecewa. Di khatulistiwa. Reff: Hutannya lebat seperti rambutku. Gunungnya tinggi seperti hatiku. Lautnya luas seperti jiwaku. Alamnya ramah seperti senyumku.
  • Sumber Daya Manusia

    Karyawan akan jauh lebih reseptif terhadap penghargaan formal -- yaitu program-program perusahaan -- jika mereka percaya bahwa perusahaan benar-benar peduli terhadap mereka yang diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.
  • Bertemu dengan manajemen puncak merupakan hal yang sangat penting agar dapat merasakan bagaimana persepsi karyawan tentang perusahaan, dan bagaimana mereka memandang dirinya sendiri. Bila karyawan tahu bahwa para pengambil keputusan dengan mudah dapat ditemui, mereka merasa lebih berharga. Menciptakan suasana dimana semua jajaran mengetahui apa yang kita lakukan adalah sesuatu yang berharga.
  • Kenali (dan ucapkan terima kasih) mereka yang menghargai orang lain. Pastikan menjadikan semua karyawan sebagai pahlawan merupakan prinsip penting dalam departemen anda.
  • Berlangganan

Arsip untuk Juni 22nd, 2009

Suatu saat di Pasuruan

Ditulis oleh iponghp di/pada Juni 22, 2009

Angin itu kembali menerpa wajahku,
Mengusir butiran air mata yang bergulir pelan,
Mengeringkan kornea mata yang memerah,
Kilasan dari tangisan yang terkuak dari dalam,
Melihat kumpulan tubuh yang tak berdosa saling menumpuk.

Sejenak hati ini menghayati keadaan yang baru lewat,
Menyaksikan sumringahnya wajah-wajah tubuh tak bernyawa itu,
Tak menghiraukan jalan jauh yang ditempuh,
Tak perhatikan hawa panas di sekeliling,
Tak peduli harus berdiri berdempetan,
Demi sesuatu yang sangat dibutuhkan.

Begitukkah jalan kehidupan yang harus dilalui,
Sesuatu yang sangat langka ada dalam genggaman,
Sesuatu yang menjauh setiap didekati dengan usaha keras,
Sesuatu yang sulit untuk dijangkau,
Namun juga sesuatu yang sangat mudah didapat bagi sebagian,
Bahkan sesuatu yang bisa tidak berarti bagi yang lain.

Memang sesuatu itu jadi harapan semua orang yang berkumpul di sini,
Menanti penuh harap, segera mendapat jatah untuk mengambilnya,
Menunggu penuh cemas karena rombongan di belakang yang mulai tidak sabar.

Wajahku kembali tersapu oleh angin yang lewat,
Menyadarkanku akan betapa tipis dan singkatnya waktu yang aku lalui,
Dari sebelumnya gerombolan orang berjubel,
Sampai akhirnya hanya jasad yang tertinggal.

Akupun berdoa untuk mereka semua,

(catatan: dibuat setelah kejadian memilukan pada 15 September 2008)

Ditulis dalam puisi | Leave a Comment »

Ujung batas

Ditulis oleh iponghp di/pada Juni 22, 2009

Akankah seekor burung yang sedang terbang tinggi,
Tahu sampai setinggi manakah daya jangkau kepakan sayapnya?
Bilakah seekor lumba-lumba yang sedang merenangi lautan luas dengan anggun,
Sadar sampai kedalaman berapa dia mampu menyelam ke dalam samudera?
Masihkah nafas seorang pendaki gunung yang tegar,
Paham sampai setipis apa atmosfir yang dapat dihirupnya?
Atau mungkinkah jalan yang panjang dan lurus itu,
Tetap lurus mengelilingi bumi sampai bertemu awalnya lagi,
Tidak pernah membelok satu milipun?

Adakah ujung batas dari setiap apa yang nampak di dunia ini,
Masihkah ujung batas dari apa yang dapat kita lihat di bumi ini,
Mampukah kita menetapkan ujung batas yang sebenarnya?
Ataukah ujung batas ini memang hanya fatamorgana saja,
Seperti terlihat namun tidak dapat dialami.

Ataukah memang ujung batas itu adalah seujung-ujungnya nafas kehidupan ini,
Akankah kita dapat menandai keberadaan kita bila di ujung batas?
Mungkinkah kemarin adalah ujung batas itu sebenarnya?

Pertanyaan-pertanyaan itupun tidak akan ada ujung batasnya.

Ditulis dalam puisi | 4 Komentar »