Catatan R O M O P O N G

  • SELAMAT DATANG

    Buat pengunjung, saya ucapkan selamat datang di blog ini. Silakan membaca dan semoga bermanfaat. Terima kasih atas kunjungannya.
  • Meta

  •  

    Juni 2009
    S S R K J S M
    « Mei   Jul »
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  
  • Nusantara I (Koes Plus)

    Kuharap kau tidak akan cemburu. Melihat hidupku. Hidupku bebas selalu kawanku. Tiada yang memburu, o..oo..ooo. Di Nusantara yang indah rumahku. Kamu harus tahu. Tanah permata tak kenal kecewa. Di khatulistiwa. Reff: Hutannya lebat seperti rambutku. Gunungnya tinggi seperti hatiku. Lautnya luas seperti jiwaku. Alamnya ramah seperti senyumku.
  • Sumber Daya Manusia

    Karyawan akan jauh lebih reseptif terhadap penghargaan formal -- yaitu program-program perusahaan -- jika mereka percaya bahwa perusahaan benar-benar peduli terhadap mereka yang diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.
  • Bertemu dengan manajemen puncak merupakan hal yang sangat penting agar dapat merasakan bagaimana persepsi karyawan tentang perusahaan, dan bagaimana mereka memandang dirinya sendiri. Bila karyawan tahu bahwa para pengambil keputusan dengan mudah dapat ditemui, mereka merasa lebih berharga. Menciptakan suasana dimana semua jajaran mengetahui apa yang kita lakukan adalah sesuatu yang berharga.
  • Kenali (dan ucapkan terima kasih) mereka yang menghargai orang lain. Pastikan menjadikan semua karyawan sebagai pahlawan merupakan prinsip penting dalam departemen anda.
  • Berlangganan

Arsip untuk Juni 19th, 2009

Rembulan redup

Ditulis oleh iponghp di/pada Juni 19, 2009

Malam ini,
Sinar rembulan begitu enggan menampakkan kemilaunya,
Redup dan terkadang sengaja sembunyi di balik awan,
Seakan semangat menyapa manusia telah punah,
Mengiringi pudarnya harapan dari seseorang,
Yang sedang merunduk dalam kebisuan,
Di halaman rumahnya yang lapang.

Riuhnya orang di sekitaran rumah,
Ramainya motor yang lalu lalang di jalanan,
Sepertinya terabaikan oleh seseorang itu.
Dengan posisi memeluk kedua lutut,
Dalam pandangan mata yang kabur,
Diapun tetap tidak bergeming dengan dinginnya malam.

Rembulan masih tetap redup,
Mengawal kegundahan hati orang itu.

Kegundahan yang dimulakan dari tuntutan yang ada,
Yang menngisyaratkan waktu selalu berjalan,
Yang menandakan masa itu ada batasnya,
Hanya dalam hitungan bulan,
Kejayaan dalam hidupnya tinggal kenangan,
Kenikmatan yang diraihnya akan lenyap,
Entah berbekas ataupun tidak,
Bagi semua orang yang pernah mengenal dan menyebut namanya.

Rembulan pun masih sembunyi di balik awan,
Seperti keberadaan orang itu yang selalu sembunyi dalam kuasa,
Memagari diri sendiri dari yang papa,
Menekan kumpulan yang membutuhkannya,
Karena pamrih yang ada di belakangnya.

Namun,
sebentar lagi dia menyadari awan kuasa itu akan sirna,
Kembali akan menunjukkan jati dirinya yang asli,
Sebagai manusia biasa, seperti sediakala.

Sinar rembulanpun semakin pudar,
Sementara orang itupun tetap merunduk dalam kebisuan yang dalam.

Ditulis dalam puisi | Leave a Comment »