(Lama “sekali” tidak menulis di blogku ini, ya karena kesibukan yang “bisa” dibuat untuk melupakan blog ini. Namun, sayang sekali kalauul harus betul-betul dilupakan. Kali ini, karena belum mode-on dengan inspirasi baru, maka saya inspirasikan tulisan ini dari sebuah buku yang bagus buat melatih otak kita).
Sebuah trik yang khas untuk mengingat daftar adalah menghubungkan obyek-obyeknya dengan cara yang bermakna, dengan merangkainya bersama menjadi sebuah cerita. Misalnya, perhatikan daftar berikut yang berisi obyek-obyek yang tidak berkaitan: pesawat terbang, heyna, krim keju, bulan, gunung berapi, bola, monumen, pelumas, petugas pos, makan siang.
Kebanyakan orang, jika diperlihatkan daftar semacam itu, akan menganggap keharusan mengingatnya sebagai tugas yang membosankan atau bahkan mengecilkan hati. Namun dengan cara penyampaian dengan cerita di bawah ini, bisa jadi hasilnya akan lain. Berikut salah satu contoh ceritanya:
Pesawat terbang yang barusan take off ternyata penumpangnya adalah heyna semua. Heyna tersebut sedang makan roti yang isinya krim keju. Tadi malam saya melihat bulan purnama, terang sekali, sepertinya bulan itu terbuat dari krim keju. Terlihat juga bahwa di bulan banyak gunung berapi, yang akan mengeluarkan bola-bola api ketika meletus. Pemandangan gunung meletus itu akan sangat jelas sekali bila dilihat dari monumen nasional (monas) jakarta. Karena saking jelasnya, kelihatan kalau bola api tersebut dilumuri oleh krim keju. Ya krim keju ternyata berfungsi sebagai pelumas. Saat itu juga, di monumen nasional sedang diadakan pertemuan panitia konferensi petugas pos seluruh indonesia, yang akan dilaksanakan besok siang sehabis makan siang.
Setelah diperdengarkan cerita pendek itu, kebanyakan orang dapat mengingat kesepuluh kata yang terkandung di dalamnya. Metoda mnemonik semacam ini, yang meningkatkan apa yang kini dinamakan penyandian materi yang terperinci, dapat ditemukan sejak 2500 tahun yang lalu dalam karya penyair Yunani, Simonedes.
(Jadi teringat juga sewaktu kecil, kita mengenal kata MEJIKUHIBINIU. Saya masih sangat yakin kalau kita semua dapat mengerti arti kata itu, yang menerangkan urutan warna pelangi. Ada cara lain juga, ini yang saya dapat dari kakakku sewaktu kecil. Menghapal nama pelabuhan dengan menyanyikan sebuah lagu yang mudah dinyanyikan. Syair lagu tersebut dirubah sesuai dengan apa yang ingin kita hapal. Ini contohnya : Medan-Belawan, Padang-Telukbayur, Bali-Benoa, Aceh-Oleole, dst. Masih hapal sampai sekarang.
Mungkin karena itu pula, maka menjelang Juli ini, kita akan sering mendengar kata JK-WIN, MEGA PRO Rakyat, SBY Berbudi).