Ditulis oleh iponghp di/pada Desember 27, 2008
Sejak kaki ini bisa diajak berlari, maka olahraga adalah kesukaan saya. Dari sekolah dasar sampai sekarangpun, yang namanya olahraga masih melekat dalam diri (walaupun pasti ada perbedaan intensitasnya). Mungkin benar juga kata pepatah bahwa buah apel jatuhnya tidak jauh dari pohonnya, karena memang bapak-ibu adalah bekas atlet (kelas sekolah atau daerah) di jaman mudanya.
Banyak kenangan manis ataupun pahit selama menjalani olahraga. Yang termasuk manis adalah sewaktu dapat meraih salah satu juara di kejuaraan nasional (walaupun di kelas yunior). Juga dapat melihat beberapa daerah di nusantara ini dengan gratis. Yang tidak kalah manis juga adalah berkenalan dengan sesama atlet sedaerah atau dari daerah lain, tentunya yang lain jenis. Lha kalau kenangan pahit juga banyak, seperti kekalahan yang didapatkan akibat masih adanya demam panggung sewaktu bermain, dimarahin sama panitia karena memakai kaos yang tidak sesuai, dan masih banyak lagi.
Bagiku, olahraga adalah salah satu aktifitas yang berperan membentuk kepribadian, Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam selingan | Leave a Comment »
Ditulis oleh iponghp di/pada Desember 26, 2008
Bait lagu Jogjakarta (KLA) sempat kusenandungkan dalam hati, ” Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu. Masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh ……….”, begitu kaki ini menginjak landasan Adisutjipto, beberapa hari yang lampau. Cuaca sore saat itu cerah, tidak seperti biasanya bila aku harus bertandang ke kota kelahiran ini. Jujur saja, pendaratan di kota gudeg ini memang membuat hatiku berdetak lebih kencang disertai rasa was-was yang lebih, dibandingkan pendaratan di bandara kota besar lain (ini hampir sama perasaannya dengan pendaratan di kotaku sekarang, sekelas bandara perintis. He he wajar ya). Entah kenapa, setiap kali setelah turun pesawat, aku senang sekali menghirup udara di sekitar Lanud ini. Ada rasa, hawa dan suasana yang berbeda. Memandang sekeliling, merasakan beberapa tahun yang lampau sering melewati bandara ini, menyeberang ke gedung olahraga AU, sekedar berlatih bersama taruna-taruna AU. Ah, kota kelahiran memang tidak bisa terlupakan, apalagi nostalgi yang ada. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam selingan | Leave a Comment »
Ditulis oleh iponghp di/pada Desember 26, 2008
Dalam khutbah Jum’at yang baru saja aku ikuti, Utsadz mengingatkan kita akan perlunya evaluasi diri menjelang berakhirnya tahun Islam (1429 H) dan tahun Masehi (2008). Memang sebenarnya evaluasi diri tidak perlu menunggu akhir tahun, dapat dilakukan setiap saat. Namun, evaluasi diri atau perenungan pada akhir tahun dapat melihat cakupan secara lebih luas, minimal dalam periode satu tahun.
Seperti halnya sebuah perusahaan yang menetapkan RKAP (Rencana Kerja Anggaran Perusahaan) tahunan, yang di dalamnya antara lain mencakup berapa produksi yang akan dihasilkan oleh perusahaan, berapa pemakaian bahan baku sampai berapa keuntungan yang ditargetkan setahun. Ukuran keberhasilan dari RKAP adalah tercapainya target-target yang dicanangkan (kesuksesan). Begitu juga dengan kita. Biasanya pada awal tahun kita mempunyai target-target apa yang harus kita raih dalam satu tahun ke depan.
Dalam khutbah tadi, Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Renungan | Leave a Comment »
Ditulis oleh iponghp di/pada Desember 26, 2008
Seorang anak perempuan bersama abangnya sedang berburu telur Paskah. Si Abang berkata kepada adiknya, ” Beri aku tujuh telur punyamu dan aku akan punya dua kali jumlah telur yang kamu punya”.
Mendengar itu, si Adik menjawab, ” Tidak adil!. Beri aku tujuh telur punyamu dan kita akan punya jumlah telur yang sama”.
Berapa banyak telur yang dimiliki tiap-tiap anak?
Ditulis dalam Permainan | 2 Komentar »
Ditulis oleh iponghp di/pada Desember 26, 2008
( Saduran : Bacalah cerita di bawah ini dan ambillah bagian yang dianggap paling lucu. Tidak ada jawaban yang benar. Namun, tidak adanya kemampuan untuk mendeteksi humor sering terkait dengan belahan kanan otak, tempat komponen-komponen puisi dan musik juga menyatu).
Seorang politikus yang berkampanye agar dipilih kembali berusaha untuk berpidato di sebuah fasilitas pensiunan untuk mendapatkan suara. Ketika berdiri untuk memulai pidatonya, bertanya kepada hadirin, ” Apakah anda sekalian tahu siapa saya?”.
Setelah sunyi sebentar, terdengar suara tua yang gemetar dari tempat duduk hadirin:
1. ” Tidak, kami toh tidak akan ingat lagi nanti”.
2. ” Ya, itulah sebabnya mengapa kami yang datang ke sini duduk di dekat pintu”.
3. ” Tidak, tetapi jika kau pergi ke meja resepsionis, mereka akan memberi tahu”.
Ditulis dalam selingan | Leave a Comment »
Ditulis oleh iponghp di/pada Desember 26, 2008
Entah, sudah kesekian kalinya, arak-arakan awan itu datang menghampiri secara bergelombang. Menghalangi sinar mentari untuk menyapa halus permukaan bumi. Menaungi manusia dari teriknya sang surya. Membawa butiran air yang siap diturunkan. Menyiratkan akan datangnya hujan yang mengguyur deras.
Namun, entah kenapa, arakan awan mendung itu menghilang begitu saja. Seakan tidak ingin berjabat tangan dengan siapapun. Melaju seiiring dengan angin sepoi yang melambai. Meninggalkan bekas yang mendalam akan keinginan datangnya curahannya. Menyilakan dewa surya untuk kembali bertegur-sapa dengan mahkluk di bumi.
Begitu seterusnya, berganti-ganti tanpa pedulikan manusia yang berharap sangat. Tidak hiraukan kerumunan hewan yang menatap tak berdaya. Tidak perhatikan rimbunan tumbuhan yang telah membuka akar untuk menyambut.
Awan mendung itupun masih menggantung, namun entah dimana. Tidak terlihat oleh siapapun yang menunggunya.
Dan sampai kinipun, awan mendung itu tetap menggantung.
Ditulis dalam puisi | Leave a Comment »
Ditulis oleh iponghp di/pada Desember 24, 2008
Satu minggu yang lalu, aku pulang kampung dalam rangka menjalankan tugas perusahaan untuk mencari amunisi baru buat perusahaan, sebagai pengganti karyawan yang dalam beberapa tahun ke depan ini menjalani masa pensiunnya. Ini kali kedua aku diberi tugas untuk kelompok sarjana, setelah tahun lalu juga di kota kelahiran ini. Memang sudah menjadi kebijakan perusahaan untuk melakukan rekrutmen setiap tahun. Hal ini mengantisipasi lonjakan pensiun pada tahun 2012-2016, dimana karyawan angkatan 1980/81 pada tahun tersebut sudah memasuki umur 55 tahun. Tahun 1980/81 memang terjadi rekrutmen besar-besaran, karena tuntutan perkembangan perusahaan saat itu. Selain kelompok sarjana, perusahaan juga merekrut kelompok SLTA dan D3. Proses rekrutmen berjenjang dari daerah/lokal dahulu. Apabila belum memenuhi, maka diperluas ke daerah lain.
Seperti pada perusahaan lain, proses rekrutmen melalui beberapa tahapan. Diawali dengan seleksi administrasi (masalah umur, IP, dll), kemudian skill test (tes tertulis), lanjut ke wawancara user, TPA (tes potensial akademis) dan psiko tes, sedang terakhir adalah medical tes. Jatah tugasku Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Renungan | Leave a Comment »
Ditulis oleh iponghp di/pada Desember 8, 2008
Waktu memang tidak bisa diputar kembali. Yang sudah lewat tidak mungkin diraih kembali. Hanya ada kegembiraan, bila waktu lalu dijalani dengan baik. Dilampaui dengan pemikiran matang, sehingga waktu kini tinggal memetik hasilnya.
Namun, sering penyesalanlah yang harus dihadapi di waktu sekarang. Menyesal karena yang lalu tidak dijalani dengan benar. Menyesal karena kesempatan yang ada tidak diambil.
Karena seperti waktu juga, kesempatan yang sama tidak dapat diputar kembali. Selalu ada yang membedakan antara satu kesempatan dengan kesempatan lain.
Maka, ketika senyuman di wajah manis itu mengembang tepat di depanku, bayangan kesempatan yang ada puluhan tahun lalu melintas jelas. Kesempatan untuk bercakap, bertegur sapa dengan si empunya senyuman, untuk sekedar menanyakan kabar, seakan terkunci karena ketakutan dan keangkuhan sendiri.
Bahkan waktu-waktu yang dilalui bersamapun, seakan tidak mampu untuk membuat kesempatan itu menjadi kenyataan. Bahkan hanya untuk mengucapkan apa kabar, bongkah batu itupun tetap tidak mampu bergeming.
Namun waktu tetap berjalan terus, walaupun medan laga sudah sangat berbeda.
Tetapi senyuman itu tetap seperti yang dulu. Si empunya juga masih menyinarkan keramahan dan kemanisan pribadinya. Dan kesempatan itupun menyapa kembali dengan kekhasannya.
Kutekadkan bahwa kesempatan itu harus menjadi kenyataan. Biar waktu kinilah yang menjadi saksi.
Hanya untuk mengucapkan apa kabar kepada si empunya senyuman.
Ditulis dalam puisi | Leave a Comment »
Ditulis oleh iponghp di/pada Desember 8, 2008
Salah satu hobby yang sering aku lakukan sekarang adalah memancing. Yup, bukan memancing keributan, tetapi memancing ikan beneran. Bukan di laut, karena masih belum pede untuk memancing dengan disertai gelombang laut, namun aku lakukan di kolam-kolam pemancingan yang banyak tersebar di kotaku.
Sewaktu awal hijrah dari kota gudeg ke kota (apa ya) ini, aku juga sudah belajar untuk memancing. Bersama dengan teman-teman (kenalan baru), mencoba melemparkan umpan di kail ke tengah kolam. Kelihatannya mudah, tetapi ternyata perlu waktu untuk bisa melempar dengan baik. Setelah melempar, ternyata ujian masih ada. Menunggu umpan dimakan ikan, bukanlah pekerjaan yang (waktu itu) mudah dilakukan. Rasanya capek dan putus harapan, melihat pelampung tidak goyang-goyang, alias tidak disentuh sama sekali sama ikan. Lama-lama, sewaktu pelampung goyang , ada gerakan tarikan ke bawah, tarikanku ternyata mendapatkan kail yang kosong. Ikan ternyata tidak tersangkut di kail. Begitu terus, berulang-ulang. Lama-lama kesabaran jadi habis juga. Terpikir kok banyak orang mau-maunya memancing. Pekerjaan gak jelas, habiskan waktu saja, hasil tidak ada.
Seiiring dengan berjalannya waktu, kesempatan melakukan kegiatan memancing cukup Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam selingan | Leave a Comment »
Ditulis oleh iponghp di/pada Desember 5, 2008
Pagi hari yang cerah, senyum sepasang anak itupun merekah. Menatap indahnya mentari pagi, dengan sinarnya yang hangatkan hati.
Kicauan burung bersahutan, bernyanyi iringi hari yang mulai terang. Sepasang anak manusia itupun bersuka ria.
Pagi yang cerah itu, sekumpulan orang mulai beranjak dari teduhannya. Membawa beban di pundak, menyusuri jalan berliku, menyasar jalan setapak, mengikuti naluri jiwa yang bergelung.
Untuk menjadi pekerja yang baik, untuk menuai kerja yang lalu, untuk memetik hasil yang diharapkan.
Langkah kaki sekumpulan orang itupun semakin ringan, melihat hamparan sawah di kejauhan. Dengan padi yang telah menguning, seakan menyapa untuk segera dibuai. Oleh tangan-tangan halus yang terampil.
Ayunan tanganpun mulai berirama, menunjukkan kerja dengan suasana riang, sebanding dengan uang yang diharapkan.
Sementara di atas bukit seberang, seorang tua bersedekap sambil menghisap pipa rokok di mulut. Melihat kumpulan orang di bawah. Dengan senyum mengembang, menunggu hasil banyak yang didapat. Membayangkan keuntungan yang akan diperoleh, karena hasil panen yang melimpah.
Jauh dalam teduhan yang kecil, sepasang anak manusia tadi masih berdendang. Bermain dengan riang, di cerahnya hari yang mulai siang.
Ditulis dalam puisi | 2 Komentar »