Kisah Sepotong Kue
Ditulis oleh iponghp di/pada November 16, 2008
Cerita ini (saya yakin pembaca pernah membacanya), saya ambil dari file PPS kiriman teman (yang sudah lama tersimpan). Saya sadur dan tuliskan di blog ini, sebagai pengingat dan renungan buat saya dan (mungkin) buat pembaca juga dalam menjalani kehidupan ini. Tidak ada maksud untuk mempermasalahkan perbedaan gender yang ada, karena bila pelaku dalam cerita ini gendernya sama, maka sangat mungkin jalannya cerita berbeda.
Seorang wanita sedang menunggu di bandara suatu malam. Masih ada beberapa jam sebelum jam terbangnya tiba. Untuk membuang waktu, ia membeli buku dan sekantong kue di toko bandara, lalu menemukan tempat duduk. Sambil duduk, wanita itu membaca buku yang baru saja dibelinya.
Dalam keasyikannya, ia melihat lelaki di sebelahnya dengan begitu berani mengambil satu atau dua dari kue yang berada di antara mereka. Wanita tersebut mencoba mengabaikan agar tidak terjadi keributan. Ia membaca, mengunyah kue dan melihat jam. Sementara si pencuri kue yang pemberani menghabiskan persediaannya. Ia semakin kesal sementara menit-menit berlalu. Wanita itu sempat berpikir:”Kalau aku bukan orang baik, sudah kutonjok dia”. Setiap dia mengambil satu kue, si lelaki juga mengambil satu. Ketika hanya satu kue yang tersisa, ia bertanya-tanya apa yang akan dilakukan oleh lelaki itu.
Dengan senyum dan tawa (yang gugup) di wajahnya, si lelaki mengambil kue terakhir dan membaginya dua. Si lelaki menawarkan separo miliknya, sementara ia makan yang separo lagi. Si wanitapun merebut kue itu dan berpikir:”Ya ampun, orang ini berani sekali dan ia juga kasar, malah ia tidak kelihatan berterimakasih”. Belum pernah rasanya ia begitu kesal.
Ia menghela napas lega saat penerbangannya diumumkan.
Ia mengumpulkan barang miliknya dan menuju pintu gerbang. Menolak untuk menoleh pada si pencuri kue tak tahu terima kasih. Ia naik pesawat dan duduk di kursinya, lalu mencari bukunya, yang hampir selesai dibacanya. Saat ia merogoh tasnya, ia menahan napas dengan kaget. Di situ ada kantong kuenya, di depan matanya. Kokmilikku ada di sini, erangnya dengan patah hati. Jadi kue tadi adalah milik lelaki itu dan ia mencoba berbagi.
Terlambat untuk minta maaf, ia tersandar sedih. Bahwa sesungguhnya dialah yang kasar, tak tahu terima kasih, dan dialah pencuri kue itu.
Dalam hidup ini, kisah pencuri kue seperti tadi sering terjadi. Kita sering berprasangka dan melihat orang lain dengan kacamata kita sendiri serta tak jarang berprasangka buruk terhadapnya. Orang lainlah yang salah, orang lainlah yang patut disingkirkan, orang lainlah yang tak tahu diri, orang lainlah yang berdosa, orang lainlah yang selalu bikin masalah, orang lainlah yang pantas diberi pelajaran. Padahal, kita sendiri yang mencuri kue tadi, kita sendiri yang tak tahu terima kasih.
Kita sering mempengaruhi, mengomentari, mencemooh pendapat, penilaian atau gagasan orang lain. Sementara sebetulnya kita tidak tahu permasalahannya.
Sekedar catatan akhir, apa yang terjadi apabila gender kedua orang itu sama, misal sama-sama lelaki atau sama-sama wanita?