Mengerjai orang lain
Ditulis oleh iponghp di/pada Nopember 11, 2008
Kalau kita pernah berpergian dengan pesawat terbang (pada maskapai tertentu), baik domestik atau internasional, maka tentunya kita tidak asing dengan tayangan video yang berjudul “Just for Laugh”, “Just joke”, “candid camera” ataupun judul lainnya yang sejenis. Film tersebut selalu jadi film andalan bagi maskapai untuk memberikan hiburan buat para penumpang. Gelak tawa dari penumpang, di sebelah, di depan atau di belakang kita atau kita sendiri, sering terdengar dengan lepas ketika film tersebut diputar. Senang juga mendengar rekan penumpang bisa tertawa seperti itu. Tidak ada perasaan terganggu karenanya. Perasaan kantuk sewaktu di ketinggian bisa terhapuskan.
Film-film tersebut, sejauh yang saya lihat selama ini, adalah film produksi barat (bukan asia atau indonesia). Kenapa ya? Padahal maskapai yang sering saya tumpangi adalah maskapai pribumi. Apakah hanya orang non-indonesia yang bisa buat film seperti itu? Tidak juga ya. Karena beberapa waktu yang lalu, di beberapa tv swasta Indonesia saya masih sempat melihat tayangan film-film sejenis. Sekarangpun mungkin masih ada. Ataukah karena kualitas produksi barat lebih baik dibanding buatan indonesia? Tidak juga. Dengan perkembangan teknologi sekarang ini, maka film indonesia juga tidak kalah kualitasnya. Namun saya tidak akan menulisnya panjang lebar mengenai itu, karena memang tidak punya kapasitas. Saya hanya ingin menulis tentang salah satu sisi yang ada pada tayangan tersebut, menurut sudut pandang saya. Yaitu suatu hiburan dari hasil mengerjai seseorang.
Dalam film-film tersebut, orang yang ditargetkan untuk dikerjain pasti tidak tahu skenario yang akan dilaksanakan oleh pelaku. Mereka dengan tulus melakukan hal-hal yang diminta. Coba saja lihat wajah mereka, pasti anda akan setuju juga. Mereka melakukannya ataupun menunjukkan ekspresi, tingkah atau perasaan secara sukarela, tergantung dari skenario yang dijalankan. Ada yang dengan senangnya membantu memegang barang bawaan (yang ternyata sebuah bom) dari nona cantik yang minta tolong kepadanya, ada yang menirukan tindakan orang-orang yang lewat di jalan yang seolah-olah ada tali yang melintang, ada yang marah-marah dan khawatir karena ada orang yang membuang anak anjing di truk sampah, dan masih banyak lagi. Semua skenario yang ada itu berusaha memainkan kondisi dan perasaan para target terhadap apa yang dialaminya. Karena setelah pelaku “mengaku” bahwa itu hanya akal-akalan, maka kondisi atau perasaan target jadi berubah total. Dari yang awalnya mempunyai perasaan takut, marah, mangkel, bengong atau yang lainnya, akhirnya menjadi berubah 180 derajad setelah mengetahuinya. Ada yang terbahak-bahak, ada yang bersyukur senang dan masih banyak lain. Yang jelas mereka akhirnya jadi menyadari bahwa mereka telah dikerjain. Pelaku senang, target senang dan kita, yang menontonnya, akhirnya jadi senang juga. Ending yang betul-betul happy, karena tidak ada yang sedih.
Saya pikir dan telaah lagi, ternyata saya telah dihibur oleh “kesialan” seseorang karena perasaan atau emosi mereka yang dikerjain. Saya mencoba untuk memposisikan saya sebagai target yang dikerjain. Misal suatu hari, saat saya sedang berjalan pulang dari kantor, kemudian di tengah jalan ada orang yang memanggil saya kemudian meminta bantuan saya untuk menunjukkan suatu jalan yang ingin dituju oleh orang itu. Sepertinya saya akan memberitahunya. Namun apabila sudah diberitahu panjang lebar dan sampai berbusa-busa, si orang itu tetep gak mudheng dan malah nambah bingung, saya rasanya akan jengkel menghadapinya (sebenarnya itulah yang diharapkan oleh orang itu). Kalau kondisi saya sepulang dari kantor sedang enak, pekerjaan beres semua, habis dapat bonus, tentunya oke-oke saja dikerjain seperti ini. Tetapi bagaimana kalau kondisi atau emosi saya sedang down. Pekerjaan di kantor masih menumpuk padahal harus segera pulang ke rumah karena anak sakit, atau habis dimarahin bos karena salah dalam bekerja, atau pas tanggal tua (uang di dompet tinggal sedikit), apakah saya bisa dengan mudah dan gembira menerima kenyataan kalau saya dikerjain oleh si pembuat film hiburan itu?
Saya tidak tahu apakah para pelaku telah mempelajari watak, kondisi, atau emosi dari seorang target sebelumnya, namun yang jelas dalam film hiburan itu kelihatan bahwa penampilan para target tidak dibuat-buat, dalam arti apa yang ditampilkan adalah spontanitas. Kita tahu bahwa setiap film selalu ada editing-nya. Mungkin juga apa yang ditampilkan ke umum sudah dilakukan editing dengan ketat, sehingga yang kelihatan adalah happy ending saja. Siapa tahu sebenarnya banyak orang yang betul-betul marah karena diusilin atau ada yang pingsan betulan karenanya. Who knows.
Namun yang jelas, saya terhibur dengan film-film tersebut selama dalam penerbangan. Hanya karena filmnya itu-itu saja, maka perasaan bosan muncul bila film tersebut diputar. Kok itu-itu saja sih. Kembali ke asal film itu diproduksi lagi, kenapa selalu dari barat terus. Apakah produksi asli indonesia tidak bisa membuat kita terbahak-bahak, ataukah happy ending yang diharapkan dari target setelah tahu bahwa dia hanya dikerjain (pasti) tidak akan terjadi? Who knows juga.