Catatan R O M O P O N G

  • SELAMAT DATANG

    Buat pengunjung, saya ucapkan selamat datang di blog ini. Silakan membaca dan semoga bermanfaat. Terima kasih atas kunjungannya.
  • Meta

  •  

    November 2008
    S S R K J S M
    « Okt   Des »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
  • Nusantara I (Koes Plus)

    Kuharap kau tidak akan cemburu. Melihat hidupku. Hidupku bebas selalu kawanku. Tiada yang memburu, o..oo..ooo. Di Nusantara yang indah rumahku. Kamu harus tahu. Tanah permata tak kenal kecewa. Di khatulistiwa. Reff: Hutannya lebat seperti rambutku. Gunungnya tinggi seperti hatiku. Lautnya luas seperti jiwaku. Alamnya ramah seperti senyumku.
  • Sumber Daya Manusia

    Karyawan akan jauh lebih reseptif terhadap penghargaan formal -- yaitu program-program perusahaan -- jika mereka percaya bahwa perusahaan benar-benar peduli terhadap mereka yang diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.
  • Bertemu dengan manajemen puncak merupakan hal yang sangat penting agar dapat merasakan bagaimana persepsi karyawan tentang perusahaan, dan bagaimana mereka memandang dirinya sendiri. Bila karyawan tahu bahwa para pengambil keputusan dengan mudah dapat ditemui, mereka merasa lebih berharga. Menciptakan suasana dimana semua jajaran mengetahui apa yang kita lakukan adalah sesuatu yang berharga.
  • Kenali (dan ucapkan terima kasih) mereka yang menghargai orang lain. Pastikan menjadikan semua karyawan sebagai pahlawan merupakan prinsip penting dalam departemen anda.
  • Berlangganan

  • Halaman

  • Blog Stats

    • 3,187 hits
  • Arsip

  • Kategori

  • Komentar Terakhir

  • Tulisan Teratas

  • Ucapan-ucapan yang baik

    Apa yang kita pungut dari kehidupan ini adalah yang kita tanam - HILLARD
  • Yang mati bukan saja di dalam kubur, tetapi juga orang hidup dengan semangat terkubur - HUKAMA
  • Berhati-hati adalah anak sulung dari kebijaksanaan - HUGO
  • Barang siapa takut menghadapi kesukaran selamanya tidak akan maju - HORNE
  • Pikirkan dengan masak apa yang hendak anda katakan pada orang lain- HORATIUS

Reuni

Ditulis oleh iponghp di/pada November 2, 2008

Pembaca tentunya sudah sangat mengenal kata reuni. Mungkin bukan hanya mengenal tetapi juga sering mengalami dan melakukannya, terutama yang sudah cukup umurnya, seperti saya ini. Diartikan secara harafiah, reuni berarti menyatukan kembali. Kenapa harus disatukan kembali, karena dulu pernah bersatu dan sekarang sudah terpisah oleh jarak, rentang waktu dan kondisi yang lain. Ada orang yang menggambarkan kalau reuni itu seperti “ngumpulke balung maneh (ind. mengumpulkan tulang kembali)”. Dengan terkumpulnya balung eh tulang-tulang ini, maka tubuh yang dulu pernah ada dapat dibentuk kembali, walaupun dengan wujud yang berbeda (pasti). Ada semacam romantisme tersendiri bila mengikuti suatu reuni. Begitu juga dengan reuni yang baru saja saya ikuti, setelah hari lebaran kemarin.

Diawali dengan berita mengenai promosi salah satu teman yang dilaunching di milis, maka tercetus ide untuk syukuran (temen itu) atas promosinya. Setelah tukar menukar informasi tentang rencana cuti, dines atau ijin, maka disepakati untuk melakukan syukuran sekalian reuni di kota perjuangan mahasiswa dulu, Ngayogyakarto, seminggu setelah lebaran. Dari sejumlah 74 orang dalam satu angkatan, diharapkan bisa cukup banyak yang hadir. Namun karena memang sudah jauh tersebar dan waktu yang relatif pendek, maka hanya 9 orang yang bisa berkumpul. Lumayanlah lebih dari 10%. Jadilah reuni “kecil” itu berlangsung di salah satu restoran yang banyak bertebaran di kota pelajar ini.

Sebelum menuju restoran yang ditetapkan, disepakati untuk berkumpul di rumah salah satu teman yang jadi dosen di salah satu lembaga pendidikan di Jogja. Kenapa harus berkumpul dulu, tidak langsung ke lokasi makan? Disinilah romantisme mulai muncul. Kita semua ingin pergi secara bersama-sama, mengenang aktifitas yang dulu juga sering kita lakukan. Ingin memanfaatkan waktu (yang pendek) ini semaksimal mungkin untuk bersama-sama bernostalgia pada jaman susah dan senangnya selagi jadi mahasiswa. Ketawa dan saling bercanda atau lebih tepat “saling menggoda”, muncul dengan sendirinya. Tanpa ada perasaan iri terhadap kesuksesan dari teman yang ada (tidak ada pemikiran seperti “wah temenku itu IP-nya lebih rendah dari aku sewaktu lulus dulu, tapi sekarang kok jadi bos di suatu perusahaan besar ya?”). Yang saya rasakan, pernyataan yang terbuka dari teman-teman tentang adanya kegembiraan bisa bertemu dengan teman-teman lama.

Memang disadari bersama, setelah lulus dari perguruan tinggi, maka masing-masing berjuang untuk dapat memperoleh pekerjaan sebagai penyambung kehidupan. Idealisme yang ada saat lulus adalah mendapatkan pekerjaan sesuai dengan background ilmu yang dipelajari selama beberapa tahun (saya sendiri 6 tahun baru lulus). Ada yang mudah dapat dan loyal, ada yang mudah dapat tapi tidak loyal pada satu perusahaan, ada yang lama dapat, ada yang tidak dapat-dapat sehingga banting stir menjadi usahawan, politikus, dan masih banyak lagi. Cerita-cerita perjuangan seperti itu menjadi bumbu penyedap obrolan selama kita makan malam.

Memang sepertinya tidak ada tembok yang membatasi kita dalam mengobrol, paling tidak buat saya sendiri. Saya akui bahwa ada seorang teman dalam reuni kali ini yang sangat jarang berkomunikasi dengan saya selama masih mahasiswa. Banyak alasan kenapa dulu jarang komunikasi. Bisa karena berbeda gender (he he memang betul ini), bisa berbeda kualitas indeks prestasinya (artinya jadi jarang ketemu karena SKS nya berbeda), bisa juga beda hobby, bisa juga beda “penampilan” (he he ini karena teman saya itu termasuk kembangnya angkatan, jadi takut). Namun pada malam itu, batasan seperti terasa roboh.

Lebih jauh, sebenarnya dengan bertemunya teman-teman lama yang mempunyai beragam profesi, adalah awal dari suatu kerjasama yang dapat dijalin untuk menghasilkan sesuatu yang berguna. Kerjasama itu bisa bermacam-macam. Ada kerjasama antar institusi perguruan tinggi dengan perusahaan ataupun kerjasama personal (dalam hal bisnis misalnya). Reuni yang awalnya sebagai tempat melepas kangen, dapat berlanjut menjadi sebuah jaringan atau network yang baru. Seperti reuni kecil ini, selain menghidupkan kenangan masa lampau, juga timbul keinginan untuk membuat reuni yang lebih besar di tahun depan, karena bertepatan dengan 25 tahun saat pertemuan awal dalam satu angkatan. Siapa tahu network kita jadi lebih luas di tahun depan.

Sayang memang, waktu yang ada terlalu pendek untuk dapat menggantikan bagaimana susah senangya selama bertahun-tahun di kampus biru. Sayang juga, senyum manis kembang akhirnya terakhir terlihat ketika kita saling bersalaman untuk berpisah karena malam telah mulai larut.

 

 

6 Tanggapan ke “Reuni”

  1. Denmasrul berkata

    Hohohoho… gitu toh?:-) Saya jadi berpikir, apakah anak-anak kita sekarang harus meraih nilai yang tinggi, IP yang tinggi? Toh.. itu bukan jaminan. Hmmm.. tapi jarene sesepuh, bejane cah sekolah sama yang nggak sekolah tuh beda.. Contohnya ini, yang sekolah bisa kembali menikmati indahnya jaman sekolah dulu dengan reuni… yang nggak sekolah pasti nggak bisa reuni… gubrakkss!! :-)

  2. iponghp berkata

    IP memang bukan jaminan utama ya. EQ yang lebih penting, sama jangan lupa anak-anak kita harus punya ketrampilan non akademis, seperti seni, olahraga, atau bakat sinetron ??

  3. nunu berkata

    Hehehe…kayaknya seni ato OR tuh lebih ke bakat ya? walaupun memang bisa dilatih sih…kalo artis sinetron sih ga bakat, itu mah tampang, pokoknya ada darah indo dikit dijamin laris manis.

  4. iponghp berkata

    ok mas Nunu, ada orang yang bilang lho kalau jenius itu 1% karena bakat, sisanya karena latihan/usaha. Tks for visiting yo

  5. pratolo berkata

    Menurut Howard Gardner,ada 8 kecedasan anak (multiple intelligences)
    kecerdasan alam, interpersonal,intrapersonal,music,verbal,numerik,kinestetik,ruang,
    weh..hapal to (soale bar maca buku balitane ridho hehe)

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>