NIAGARA : percikan airmu menerpa wajah kami
Ditulis oleh iponghp di/pada Agustus 9, 2008
Ada apa kok harus ke Toronto ?
Bulan September 2005, saya dan 3 orang teman sekantor, mendapat kesempatan untuk melihat salah satu kota di Kanada, yaitu Toronto. Sebenarnya bukan mendapat kesempatan, yang tepat kami mencari kesempatan. Ya, memang mencari. Awalnya dari kebiasaan searching di internet mengenai perkembangan pabrik , kami menemukan undangan symposium masalah pabrik. Mulailah ketertarikan tersebut menghasilkan ide. Beberapa pengalaman operasional yang pernah kita alami (maupun dari memo to file yang lalu-lalu) coba kita lihat kembali, manakah yang layak dan cocok untuk dijadikan sebuah makalah. Mulailah penulisan draft makalah dilakukan. Sejak diumumkan pada bulan Pebruari batasan waktu yang diberikan oleh panitia symposium untuk penyerahan draft makalah secara lengkap adalah bulan April. Sedangkan untuk slide presentasi harus diterima oleh panitia pada bulan Agustus. 
Diantara rutinitas pekerjaan sehari-hari, penulisan draft makalah dalam bahasa Indonesia dapat diselesaikan tidak terlalu lama. Masalah baru timbul sewaktu akan menterjemahkan makalah tersebut ke bahasa inggris, karena disadari kalau kemampuan bahasa inggris kami rata-rata saja (menyesal juga kenapa dulu kursus inggrisnya tidak sampai kelar). Alhamdulillah, akhirnya draft makalah dalam bahasa inggris tersebut rampung juga. Makalah segera dikirim ke pantia via email, untuk dilakukan review oleh panitia.
Selang 2 bulan, pada bulan Juni, kita menerima hasil review dari panitia. Menerima hasil review tidak membuat kita senang, karena begitu banyak yang harus direvisi, sebagian besar adalah tata bahasa inggris. Kami jadi makin sadar akan kemampuan bahasa inggris kami. Karena dead line untuk penerimaan hasil revisi adalah bulan Juli, maka waktu ekstra diperlukan untuk penyelesaian makalah tersebut. Setelah revisi makalah dapat dikirimkan ke panitia sebelum hari H nya, pekerjaan selanjutnya adalah pembuatan slide presentasi dan pengurusan administrasi, seperti passport, pembuatan visa dan lain-lain.
Bulan Agustus, slide presentasi dapat terkirim dan persyaratan administrasi sudah lengkap. Sudah beres? Ternyata belum, karena kita harus mempersiapkan mental dan metoda presentasi. Pikiran kami bahwa selain membawa nama pribadi dan perusahaan, maka nama Negara juga harus dijaga. Jangan sampai kami membuat nama Indonesia jelek di luar negeri. Ini symposium internasional, gitu loch. Strategipun harus dibuat untuk mengatasi ketidaksempurnaan dalam berbahasa inggris. Kita buat contekan (kepekan – bhs jawa) kata-kata yang akan diucapkan nantinya. Dibuat kecil-kecil,sebesar setengah halaman. Lumayan tebal juga. Supaya lancar, begitu kita beralasan kalau nanti ada yang menanyakan.
Perjalanannya ternyata sangat jauh
Toronto, adalah salah satu kota besar di Negara Canada, terletak di dekat perbatasan dengan Negara Amerika Serikat. Sekitar 1,5 jam kearah selatan, terdapat air terjun yang sangat terkenal di dunia, yaitu air terjun Niagara. Selisih waktu dengan Indonesia (Jakarta) 13 jam, duluan Indonesia. Kami memilih flight carrier Cathay Pacific-Hongkong. Alasannya sebenarnya cukup sederhana, karena ada teman yang pengin melihat bandara Hongkong. Dari flight schedule yang telah dipesan, rutenya adalah Jakarta-Hongkong (via Singapore)-Anchorage (Alaska-USA)-Toronto. Berangkat dari Jakarta hari Sabtu jam 07.40 pagi, sampai Toronto hari Sabtu juga jam 22.15 waktu setempat. Perjalanan dari Jakarta ke Hongkong ditempuh sekitar 6 jam (termasuk ke Singapura). Hongkong-Anchorage sekitar 9 jam dan Anchorage-Toronto sekitar 7 jam. Jadi total waktu penerbangannya adalah 22 jam atau hampir 26 jam perjalanannya.
Perjalanan ke Toronto, dengan ganti pesawat di Hongkong, memuat penumpang sesuai dengan jumlah kursinya, artinya full. Fasilitas dan servis dari Cathay cukup baik. Makanan dan minuman mencukupi. Dalam perjalanan, terjadi perbincangan mengenai waktu siang atau malam yang akan ditempuh selama perjalanan. Selepas dari Anchorage, perjalanan selalu dalam suasana gelap atau malam hari. Kenapa hal ini diperbincangkan, karena sebagai seorang muslim kami memperkirakan waktu sholat serta berandai-andai kalau pas bulan Ramadhan kapan harus buka dan sahur. Selain itu, dalam perjalanan ini kami akan melewati garis imajiner tanggal, yaitu International Date Line (kalau di peta pulau Hawai terlewati oleh garis imajiner ini, tinggal menarik garis hampir lurus ke atas dan ke bawah). Aktualnya memang sedikit ada guncangan sewaktu melewati garis ini, tetapi itu mungkin hal yang biasa. Karena garis pergantian tanggal tersebut memang hanya imajiner.
Sayang, dalam pemberhentian di Anchorage-Alaska, penumpang tidak diperkenankan turun di airport. Kita harus tinggal di dalam pesawat sekitar 45 menit, sambil menunggu crew bandara melakukan pembersihan di dalam pesawat. Kurang jelas alasan pelarangan ini, padahal keinginan untuk turun mengetahui sauasana Alaska sangat besar. Dalam transit ini, terjadi penggantian crew pesawat Cathay. Sekilas dari dalam pesawat, suasana bandara Anchorage cukup sepi sebagai bandara internasional. Tidak terlihat pesawat komersial yang lain. Hanya beberapa pesawat cargo yang terpakir di tempatnya.
Alhamdulillah, akhirnya sekitar jam 22.00 kami mendarat di bandara Pearson-Toronto (sempat terbayang juga kecelakaan yang terjadi di bandara Pearson beberapa bulan sebelumnya). Secara umum, perjalanan terasa nyaman. Goyangan yang cukup besar terjadi pada saat mendekati Hongkong dan selepas dari Anchorage. Kelihatannya ini berkaitan dengan factor cuaca yang relative mendung pada saat itu. Pada awal perencanaan, kami telah booking hotel untuk hari Minggu, sedang hari Sabtu malam tersebut kita rencanakan untuk go show saja mencari hotel di bandara. Ternyata memang tidak sulit mencarinya. Fasilitas di bandara cukup informatif mengenai hotel-hotel yang ada di sekitar bandara. Kami memilih hotel Hilton, karena harganya sesuai dengan kemampuan kita.
Satu hal yang biasanya harus dihadapi kalau kita di luar negeri, yaitu masalah jetlag. Di Toronto sudah waktunya untuk beristirahat, tetapi bagi tubuh kita , saat itu merupakan waktu effektif untuk bekerja. Badan memang terasa lelah, tetapi untuk dapat tertidur sangatlah sulit. Tetapi ini harus dilawan, kalau tidak tubuh tidak bisa menyesuaikan nantinya. Akhirnya kita memang dapat tertidur, tetapi kadar kepulasannya sangat rendah. Akibat yang kami rasakan adalah pada saat check out (sekitar jam 11 siang), kita malah terkantuk-kantuk. Tubuh Indonesia ini mengajak kita untuk tidur, beristirahat.
Oh, boyokku korban koper
Hari Minggu siang itu kami beranjak meninggalkan hotel Hilton menuju hotel Comfort di downtown, hotel yang sudah kita book dari Jakarta, jauh-jauh hari sebelum keberangkatan. Oleh resepsionis hotel Hilton diinformasikan 2 cara menuju ke downtown. Naik bus plus kereta subway atau naik taksi. Yang pertama perlu dana $CAD 2,5 sedangkan kalau naik taksi perlu $CAD 40. Mungkin karena keinginan untuk mencoba sesuatu lebih besar, maka kita putuskan untuk naik bus+subway. Jadilah kita beranjak ke halte bus yang ada di seberang jalan hotel.
Informasi di halte sangatlah lengkap. Tujuan, nomer bus, rute perjalanan tersedia. Bus yang kami tumpangi tidak perlu ditunggu lama. Kondisi bus relative bersih dan hanya terlihat beberapa kursi yang terisi. Pembayaran dilakukan sewaktu kita naik dengan memasukkan ke dalam kotak yang disediakan di samping supir bus. Agaknya ini merupakan ciri khas negara maju. Walaupun tidak ada kondektur, penumpang disiplin untuk membayar ataupun memberi tanda sendiri dimana akan turun. Penurunan penumpang selalu di halte, tidak seperti bus-bus yang ada di Indonesia yang bisa berhenti dimanapun, kecuali tentunya Bus way Jakarta.
Perjalanan ke terminal terakhir memakan waktu sekitar 20 menit. Pada setiap pemberhentian di halte, beberapa penumpang silih berganti naik dan turun. Sekali lagi, semuanya cukup teratur. Penumpang yang naik selalu lewat depan, sedangkan yang turun lewat belakang. Kami perhatikan, penumpang yang naik, setelah membayar, akan mendapatkan semacam resi/tiket dari sang supir. Kok tadi kami tidak ya, begitulah pertanyaan yang timbul. Pikiran agak jelek mencuat, jangan-jangan sang supir melakukan korupsi kecil-kecilan dengan tidak memberikan tiket tersebut. Nantinya uang yang akan disetor adalah sesuai dengan jumlah tiket yang keluar. Wah kalau ini sih kayak orang Indonesia saja, yang sangat mumpuni untuk melakukan korupsi. 
Akhirnya pikiran jelek tersebut terjawab sudah. Ketika kami sampai di terminal terakhir dan siap-siap untuk naik ke kereta bawah tanah (subway), kami bertanya ke salah satu calon penumpang, yang wajahnya sangat oriental. Penumpang itu memberitahukan kalau kita harus punya tiket dulu sebelum naik, supaya nanti kalau ada pemeriksaan tidak didenda. Jadilah kita cari loket untuk beli tiket. Di loket, kami ditanya tadi ke sini naik apa.Kami bilang kalau naik bis. Tadi sudah bayar di bis, begitu tanyanya. Sudah mister. Lha kalau gitu ya sudah tidak perlu beli tiket lagi. Lha sekarang kami yang jadi bingung. Kalau gak beli tiket, nanti ketangkap sama kondektur kereta, tapi kok disuruh langsung naik saja. Setelah sedikit eyel-eyelan, karena kelihatannya si penjual tiket agak keberatan kalau kita harus bayar lagi, maka tiketpun akhirnya kami dapat. Legalah kami naik kereta dengan tiket di tangan. Jadi sebetulnya setelah kita membayar di bis, kita harus minta tiket untuk bekal perjalanan selanjutnya. Wah terpikir, betapa murahnya perjalanan dengan memakai transportasi umum ini. Apakah di kereta memang ada kondektur? Ternyata tidak ada sama sekali. Andaikan tadi kita tidak beli tiketpun, juga tidak apa-apa.
Perjalanan dengan subway melewati sekitar 6 stasiun, sebelum sampai di tempat tujuan, yaitu Dundas Station. Keluar dari bawah tanah, terlihatlah kehidupan di sekitar Eaton Centre, yang merupakan salah satu pusat down town Toronto. Seperti suasana minggu sore di luar negeri (jadi ingat yang di Harajuku atau Ueno, Tokyo), selalu ada pertunjukan atau keramaian sebagai tempat berkumpul. Cuaca yang cerah dan temperature udara yang sejuk (sekitar 19 0C) turut mendukung keramaian suasana dan lalu lalang penduduk Toronto.
Dengan menarik sebuah koper ukuran sedang, kami mencari hotel Comfort Suites, yang menurut data di internet tidak terlalu jauh dari Dundas Station, karena sama-sama terletak di Dundas street. Diinformasikan oleh salah satu penjual pakaian di keramaian itu, yang kebetulan seorang wanita (setengah baya), bahwa hotel kita mengarah ke timur sekitar 500 m, tidak jauh katanya karena dapat dicapai dengan berjalan kaki. Weh, begitu satu anggota dari kami bergumam, bukan karena kecantikan dari wanita itu tetapi karena barang bawaannya. Kopernya yang relative paling gede diantara kita ternyata alat bantu tariknya sudah jebol. Jadi cara nariknya harus dipegangi di handle angkat, yang tentunya membuat dia harus membungkukkan badan selama berjalan. Mungkin sudah dibayangkan bagaimana rasanya boyok tertekuk selama menyusur jalan sepanjang 500 m. Kita bertiga yang lain saling melempar senyum dan canda atas kesengsaraan teman ini.
Survey tempat symposium
Hotel Comfort Suite termasuk hotel bintang 3. Suasana lobby termasuk nyaman, dengan pancuran air kecil di pojok meja resepsionis. Saat itu yang bertugas ada 3 orang, 1 perempuan (yang pada akhirnya kami tahu dia berasal dari Equador) dan 2 orang laki-laki temannya. Kami tinggal menunjukkan voucher yang diberikan sewaktu di Jakarta. Kami menempati 2 kamar di lantai 5 dan 6, dengan 1 kamar dihuni oleh 2 orang. Kamar hotel cukup lapang, sangat berbeda dengan Jepang pada standard hotel yang sama. Bahkan bila dibandingkan dengan di Jakarta pun relative lebih baik. Perlengkapan untuk membuat kopi tersedia lengkap. Mungkin jadi wajar atau kurang bila kamar seharga $ CAD 150 per malam itu kita kurs-kan ke rupiah, karena akan menjadi sekitar Rp. 1,4 juta-an per malam (kalau di Jakarta sudah dapat hotel bintang 5).
Sudahlah tentang harga kamar, yang pasti sore itu kita udah janjian ketemu panitia untuk simulasi slide presentasi. Saya pikir, panitia cukup professional dalam hal ini. Mereka meminta untuk slide presentasi dikirim untuk diperiksa kelaikannya untuk dipresentasikan dilihat dari komposisi warna dan jenis-besar tulisan. Setelah itu kita diminta untuk melakukan pengechekan sebelum jadwal presentasi selesai.
Ba’da shalat dhuhur dan ashar, kami berempat berangkat menuju hotel Royal York, tempat dimana symposium diadakan. Perjalanan dengan taksi memakan waktu sekitar 10 menit, karena jalanan juga cukup lengang. Saat itu, supir taksi kita berasal dari Pakistan (nantinya terbukti kalau supir taksi di Toronto kebanyakan berasal dari bangsa Asia, seperti Pakistan, Bangladesh India dan Taiwan). Hotel Royal York merupakan hotel bintang lima, terletak tepat di depan Union Station, stasiun pusat Toronto. Bangunan yang mengesankan jaman Renaisssance itu memang pantas sebagai tempat orang berduit menginap dan berlangsungnya symposium internasional.
Selesai urusan di slide, kami putuskan untuk jalan kaki menuju ke hotel. Kami harus istirahat karena jet lag masih menghinggapi kita. Kita berjalan kaki untuk membuat badan menjadi lelah, sehingga diharapkan dapat tidur lelap nantinya. Sepanjang jalan, kami menikmati suasana downtown Toronto. Gedung-gedung perkantoran yang megah dan menjulang tinggi berada di kiri-kanan jalan yang kami lalui. Hanya toko 24 jam yang buka, yang sempat kami masuki untuk sekedar mendapatkan makanan dan minuman sebagai simpanan di kamar hotel. Sekitar 20 menit kami berjalan, dalam cuaca yang cukup sejuk, sampailah kami di hotel.
Is this Indonesian style?
Tepat jam 08.15, symposium AIChE yang ke 50 dibuka. Jumlah peserta yang tercatat sebanyak lebih kurang 450 orang. Dari benua Asia terdapat wakil dari Indonesia, Malaysia, Iran, Pakistan, India, Vietnam. Waktu tiap presentasi adalah 20 menit dan 10 menit tanya jawab, jadi total 30 menit. Itu adalah aturannya. Kenyataannya aturan itu tidak dapat ditaati dengan ketat. Ada yang presentasi lebih dari 20 menit, tetapi oleh panitia tidak diingatkan. Hanya kasus tertentu saja, misal memang terlalu lama serta membosankan, yang ditegur oleh moderator.
Hari kedua dijadwalkan hanya setengah hari, karena ada acara jamuan makan siang oleh panitia kepada penerima undangan symposium. Kita berempat menerima undangan tersebut, tetapi melihat kondisi dan waktu, maka kita putuskan tidak datang pada acara tersebut. Kita ingin melihat lebih jelas suasana kota Toronto. Kami berjalan menyusuri jalan downtown yang lain, dengan tujuan daerah China Town. Kita ingin mencoba makan siang di area tersebut, yang tentunya menjanjikan masakan yang sesuai selera. Dalam perjalanan, kita sempat mampir di Toronto Tower, yang merupakan landmarknya Toronto. Ceritanya, tower tersebut untuk menandingi ketenaran Menara Eiffel di Perancis. Dari segi ketinggian, Toronto Tower lebih tinggi. Kita tidak naik ke atas tower karena melihat antrian yang cukup panjang serta tuntutan perut yang minta diisi.
China town Toronto terletak di antara jalan Spadina dan Dundas. Seperti layaknya di Kelapa Gading Jakarta, atau daerah pecinan lain, restaurant merupakan pemandangan yang paling menonjol. Disamping juga pasar-pasar yang menjual buah-buahan, sayur-sayuran dll. Serasa di Asia saja kita berempat. Siang itu, kita memilih restaurant Vietnam, Bun Saigon namanya. Si empunya adalah perempuan separuh baya, ramah dan berasal dari Vietnam. Dia baru 20 tahun di Toronto. Masakannya sangat cocok dengan selera kita. Puas rasanya. Agaknya tempat itu jadi tempat pertemuan orang-orang Vietnam. Banyak yang datang untuk makan siang, atau sekedar minum sambil ngobrol. Kita juga berkenalan dengan orang Vietnam, yang cerita kalau dulu dia sempat lari ke Malaysia (sewaktu perang Vietnam). Sebelum pulang, karena saking akrabnya kita bilang “ OK, see you next time. Thank you”. Lha, padahal kita itu belum bayar. Ibu Vietnam itu, sambil ketawa berkata, ‘ Is this Indonesian style?”. Kami semua ketawa ngakak. Memang menyenangkan bila ketemu orang serumpun di negeri orang, ramah lagi. Apa kita stylenya memang seperti itu?
Maid of the mist: Niagara Falls
Ketenaran nama Niagara Falls agaknya sudah tidak diragukan lagi. Sejak SD, kami sudah mendengar akan keindahannya. Alhamdulillah, kami akhirnya dapat melihat dengan mata kepala sendiri salah satu bukti akan kebesaran Allah SWT. Dari resepsionis hotel, disarankan untuk pergi ke Niagara melaui travel agen. Lebih mudah dan murah. Kami memesan tiket seharga $CAD 95 per orang melalui customer service yang ada di hotel. Dengan biaya tersebut, kami mendapatkan tiket masuk ke area Niagara, biaya guide dan biaya transportasi bus.
Perjalanan menuju Niagara Falls ditempuh sekitar 2 jam perjalanan dari Toronto. Sepanjang perjalanan, guide kita seorang peranakan India, yang sekaligus merangkap sebagai supir bus, menceritakan dengan lancer tentang apa saja yang berada di kanan-kiri High Way. Salah satunya adalah keberadaan Islamic Centre yang ada di Canada, yang berjarak sekitar 50 km dari Toronto. Islamic Centre ini merupakan pusat kegiatan keislaman bagi umat Islam se Amerika Utara (sayang kita tidak sempat mampir). Memang banyak umat Muslim di Toronto yang kebanyakan berasal dari Bangladesh, Pakistan dan Afghanistan. 
Niagara Falls terletak di perbatasan negara Canada dan USA, oleh karena itu air terjun ini dimiliki oleh 2 negara tersebut. Bagian yang berada di USA sering disebut American Falls dan Bridal Veil Falls, dengan ketinggian 53.6 meter, lebar 323 meter dengan volume air 150 ribu US gallon/detik. Sedangkan yang merupakan bagian Canada disebut dengan Canadian Horseshoe Falls, mempunyai lebar 793 meter, tinggi 52 meter dan 600 ribu US gallon/detik air yang ditumpahkan Sumber air dari falls ini berasal dari danau Erie, kemudian mengalir melalui sungai Niagara, menuju danau Ontario dan akhirnya bermuara di laut. Kedua falls tersebut dipisahkan oleh sebuah pulau keci, (Goat Island), yang terletak di negara Amerika.
Dari segi keindahan, Canadian Falls, menurut kami, jauh lebih unggul dibanding kepunyaan Amerika(ini dibuktikan juga dengan jumlah pengunjungnya yang lebih banyak). Selain lebih lebar dan volume air yang lebih banyak, tinggi jatuhannya lebih tinggi, karena di di bawah American Falls.banyak terdapat tumpukan batu-batu besar. Sebenarnya ketinggian jatuhan air di American falls itu hanya 21 meter. Banyak atraksi yang dapat dijelajahi di Niagara Falls ini, seperti Behind the Rock, naik helicopter untuk melihat air terjun dari atas, panorama di waktu malam dimana keindahan warna-warni yang dipantulkan oleh air, serta Maid of the Mist yaitu perjalanan mendekati air terjun dengan kapal. Atraksi terakhir ini kami sempat kami coba.
Kapal kecil dengan muatan sekitar 100 orang ini menyelusuri sungai sekitar 300 meter untuk dapat mendekati jatuhan air Horseshoe Falls. Penumpang sebelumnya diberikan jas hujan (sebenarnya hanya plastic tipis warna biru yang dibentuk seperti jas), untuk melindungi baju (dan badan) dari terpaan mist (embun) air. Pemandangan saat itu memang sangat menakjubkan. Dengan kecepatan rendah, kapal mendekati air terjun. Setelah dekat dengan jatuhan air,kapal berhenti sekitar 5 menit untuk memberi kesempatan penumpang merasakan begitu hebatnya jatuhan air dari ketinggian. Sangat terasa kapal menderu-deru menahan laju air yang mengalir, untuk mempertahankan kestabilan kapal. Sayang, kami tidak bisa mengambil gambar saat itu, karena disamping angin yang sangat kencang juga khawatir kamera digital (satu-satunya) akan rusak kena basah air. 
Handphone ngadat saat persiapan pulang
Hari Sabtu, kita persiapan untuk pulang. Pesawat dijadwalkan jam 22.00 dari Toronto. Karena ada kebaikan dari resepsionis (yang udah kita kenal), maka check out time dapat diundur sampai jam 3 sore. Selama kami di negeri orang, komunikasi dengan keluarga dilakukan via handphone (tentunya lewat SMS saja, karena masalah cost lagi). Sejak dari Singapura sampai di Niagara, jalur komunikasi lancar. Tetapi setelah kita keluar dari daerah wisata Niagara, handphone tidak ada sinyal. Hal ini berlangsung sampai kami siap-siap untuk boarding ke pesawat. Kita bingung kenapa hal itu terjadi. Dugaan muncul, mungkin ini terjadi karena adanya perang sinyal sewaktu di Niagara. Perang sinyal terjadi antara Roger (telkomselnya Kanada) dengan indosatnya Amerika.
Sabtu pagi hari, saat kita sarapan, lewat CNN kita mengetahui kalau Bali, salah satu pusat pariwisata Indonesia terjadi pengeboman (Bom Bali 2). Sedih juga kita. Kita di Kanada bisa melihat salah satu obyek wisata dunia, di tanah air obyek wisata dunia yang lain telah diporak-porandakan oleh anak bangsa sendiri. Akhirnya, hari Senin sore tanggal 3 Oktober 2005, kita mendarat dengan selamat di bandara Soekarno Hatta. Banyak pengalaman yang kami peroleh selama perjalanan ini. Tetapi satu yang utama adalah kita memang harus berani mencoba.
teddy berkata
Bos tenkyu for sharingnya ….moga tetep terus nulis apa nyang udah di alamin selama ini biar kite kite ketularan……………
Nur Iswanto berkata
Pong,
Panitian AIChE Toronto ternyata cukup generous. Saat presentasi di World Congress on Particle Technology (WCPT) yang bersamaan dengan Spring Conference AIChE di Orlando (Fl), April/Mei 2006, untuk lunch peserta harus bayar. Yang aku ingat untuk 1 kaleng coke dan sandwich hargnya USD 9. Mungkin itu bisa disebut sebagai the American style kali yaa?
Sedangkan kalau di konferensi ASSCT (Australian Society of Sugar Cane Technologists) dan Chemeca (Chemical Engineering Conference of Australasia), di Oz dan NZ, meal cukup melimpah.
Keep writing Mate!
Salam,
Nur
iponghp berkata
Tks mas Teddy, penjaga gawang di Semarang and Jogja.
Mas Nur, tks juga. Masih di Aussie? Sebetulnya AIChE termasuk “gendheng” dalam perekonomian. Selain bayar yang wajar untuk keikutsertaan, proceeding harus beli lagi. Lunch, kita harus cari sendiri. Kecuali kalau ada rekanan yang mentraktir kita. Beda jauh dengan orang Belanda (?). Tahun 2004 ke sana sama denmasrul juga urusan seminar, bayar sekali saja (gak mahal-mahal banget),tapi proceeding, lunch sudah termasuk. Anyway tks for the comment.