“Ini sekelumit cerita lucu, tak terduga atau apapun yang mewarnai kepergian (singkat) saya Korsel. Ya, saya diminta kantor asal untuk membantu tim engineering untuk proyek pabrik baru, yang dulu saya termasuk bagian inti dari tim tersebut. Nama-nama dalam kisah-kisah tersebut disamarkan, namun yang pasti saya terlibat di dalamnya.”
Korea, ini baru pertama kali aku mengunjunginya. Namun tidaklah asing bagiku. Bukan karena kekuatan badmintonnya atau sepakbolanya, tetapi suasana dan kondisinya yang mirip dengan negara tetangganya. Ya dengan Jepang. Sama-sama bangsa kuning, saya bisa membayangkan kehidupannya sepadan dengan Jepang. Dari kedisiplinan mereka untuk antri, ramah kepada orang lain yang diwujudkan pada cara membungkuknya, kebiasaan mereka jalan cepat, keteraturan alat transportasi mereka. Jadi saya tidaklah khawatir atau perlu membaca referensi yang banyak tentang Korea, seperti biasanya yang saya lakukan bila akan pergi ke luar negeri.
Berbekal sedikit penjelasan dalam email bagaimana jalan menuju booked hotel dari airport, maka yang perlu saya lakukan setelah lepas dari klaim bagasi adalah memastikan pernyataan di email dengan kenyataannya, seperti nomer bis yang harus dipilih, dimana lokasi keberangkatan bis, berapa interval waktu pemberangkatan bis dan biaya yang diperlukan. Semua ternyata sama dan sangat mudah dicari. Maka dengan 15.000 won, saya menaiki bis dengan nomer 6009, turun di Gangnam Street Station, dekat dengan Artnouveau City II Hotel. Masalah timbul setelah bertemu dengan recepsionis laki-laki di hotel. Jam check in adalah jam 2 siang. Saat itu baru jam 11 siang. Saya minta ada keringanan supaya bisa masuk kamar duluan. Namun petugas hotel itu kekeh bilang tidak bisa, karena belum waktunya, dengan alasan belum ada kamar yang kosong. Entah ini hanya alasan, namun kegigihan dia untuk bertahan pada peraturan yang ada layak diacungi jempol juga, walaupun tidak menguntungkan saya. Terpaksa saya titip bagasi yang ada dan membunuh waktu dengan berkeliling di area sekitar hotel.
Selepas istirahat tidur yang cukup nyenyak, sore hari saya merencanakan untuk menjajagi bagaimana cara dan mengetahui route dari hotel menuju kantor kontraktor proyek ini. Dari informasi yang diberikan, subway terdekat dengan kantor hanya berjarak satu stasiun dari subway dekat hotel. Saya coba tanyakan ke penjaga hotel tentang hal itu, dia menjawab lebih baik naik taksi saja. Tidak lebih dari 10 menit dan biayanya sekitar 10 ribu won. Wah mahal juga dengan jarak yang tidak begitu lama. Sayapun coba menyusuri dengan kecepatan jalan kaki seperti jalannya orang Jepang. Masuk subway, mencari pintu keluar yang tepat dan menapaki jalan yang sedikit menanjak. Huh cukup membuat tubuh berkeringat juga. Akhirnya tidak kurang dari 45 menit, saya sampai di kantor yang dituju. Waktu selama itu lebih banyak saya habiskan di dalam subway, untuk mempelajari cara membeli tiket secara otomatis, serta keliru mengambil jalan keluar sehingga harus masuk kembali ke dalam subway. Hmm kalau dengan subway, dari Gangnam langsung turun di stasiun berikutnya, Yeoksam. Harganya 1000 won. Cukup tanggung, bagiku. Akhirnya kuputuskan, pulang pergi hotel kantor akan kutempuh dengan jalan kaki. Selain untuk berolahraga (aktifitas yang sudah jarang saya lakukan di Jakarta) tentunya juga ada penghematan, he he he.
Selama perjalanan hotel kantor pulang pergi, saya seeprti biasa menemukan kebiasaan mereka yang banyak bisa kita tiru. Seperti kebiasaan mereka antri bis dengan tertib pada tempat bis yang telah ditentukan, kebiasaan selalu taat menyeberang pada zebra cross yang telah ditentukan, kebiasaan para pengemudi mobil untuk menghormati penyeberang jalan di zebra cross, dan masih banyak lagi. Namun selain hal positip tersebut, ada beberapa kebiasaan negatip yang kiranya tidak perlu ditiru, seperti merokok sambil berjalan menyusuri jalan pulang atau pergi, berpacaran di tempat terbuka.
Dari berbagai hal positip, menrut saya yang paling menarik adalah begitu terhormatnya jalur bus (busway). Seperti di Jakarta, jalur busway juga disediakan sendiri. Ada tanda khusus. Bedanya, di Seoul, tanda jalur busway hanya diberi warna sebagai pembatas, tidak perlu ada tembok (kecil) pembatasnya. Dedanya lagi, walaupun tanpa tembok pembatas, yang lewat jalur busway itu ya hanya kendaraan yang dipanggil orang banyak dengan nama bis. Tidak ada kendaraan lain. Walaupun tidak ada polisi yang menjaganya, jalan busway itu tetap lengang saat jalan sebelahnya penuh sedan atau MPV mewah. Tidak ada yang nyelonong msuk jalan busway. Jadi bus memang the king di jalanan Seoul.