Ditulis oleh iponghp di/pada Juli 9, 2009
Biarkan Tuhan Menilaimu.
Apabila engkau berbuat baik, orang lain mungkin akan berprasangka bahwa ada maksud-maksud buruk di balik perbuatan baik yang kau lakukan. Tetapi, tetaplah berbuat baik. Terkadang orang berpikir secara tidak masuk akal dan bersikap egois. Tetapi, bagaimanapun juga, terimalah mereka apa adanya.
Apabila engkau sukses, engkau mungkin akan mempunyai musuh dan juga teman yang iri hati atau cemburu. Tetapi teruskanlah kesuksesanmu itu. Apabila engkau jujur dan terbuka, orang lain mungkin akan menipumu. Tetapi, tetaplah bersikap jujur dan terbuka.
Apa yang telah engkau bangun bertahun-tahun lamanya, dapat dihancurkan orang dalam satu malam saja. Tetapi, janganlah berhenti dan tetaplah membangun. Apabila engkau menemukan kedamaian dan kebahagiaan di dalam hati, orang lain mungkin akan iri hati kepadamu. Tetapi, tetaplah berbahagia.
Kebaikan yang kau lakukan hari ini, mungkin besok dilupakan orang. Tetapi, teruslah berbuat baik. Berikan yang terbaik dari apa yang kau miliki, dan itu mungkin tidak akan pernah cukup. Tetapi, tetap berikanlah yang terbaik.
Sadarilah bahwa semuanya itu ada di antara engkau dan Tuhan. Tidak akan pernah ada antara engkau dan orang lain. Jangan pedulikan apa yang orang lain pikir atas perbuatan baik yang kau lakukan. Tetapi percayalah bahwa mata Tuhan tertuju pada orang-orang jujur dan Dia sanggup melihat ketulusan hatimu.
Ditulis dalam Renungan | Leave a Comment »
Ditulis oleh iponghp di/pada Juli 9, 2009
Waktu ini rasanya berjalan melambat,
Semua yang bisa dilakukan telah menuai hasil,
Apa yang diharapkan sudah memberi bukti,
Namun waktu inipun belum beranjak pergi,
Bergelayut disekujur tubuh,
Mengikuti setiap loncatan kaki yang panjang.
Mengiringi tarikan tangan melambai,
Membebani dalam meniti langkah ke depan.
Waktu ini sepertinya masih mengelilingiku,
Memagariku dalam bayangan maya,
Mengitariku laksana lingkaran tak terpatahkan,
Mengunciku dan meminta perhatian yang lekat.
Waktu inipun belum akan pergi,
Tetap bersamaku di belakang dan di depanku.
Ditulis dalam puisi | Leave a Comment »
Ditulis oleh iponghp di/pada Juli 7, 2009
Semoga kita dapat mengambil hikmah dari apapun yang kita alami. Berusaha terus, untuk menjadi lebih baik dimata Sang Pencipta. Sambil terus introspeksi apakah kita telah mendzalimi orang lain, apakah kita tanpa terasa telah menjadi orang fasik, apakah kita tanpa terasa telah mengambil hak orang lain? Jadilah tangan yang di atas, yang selalu berpikir dan bertindak untuk memberi , baik harta maupun ilmu, kepada orang lain.
Jangan biarkan keburukan datang dari diri kita. Berusahalah untuk selalu tawadhu, rendah hati, berbaik sangka, berbudi bahasa baik, tidak merendahkan/meremehkan orang lain. Jangan tinggi hati. Seburuk-buruk manusia pasti ada sisi kebaikannya, sebaik-baik manusia pasti ada kekurangannya.
Jangan kita terperosok kepada kufur nikmat. Banyak yang telah kita terima dari Sang Maha Pemberi, tetapi kita selalu merasa kurang. Jauh lebih banyak orang yang lebih menderita dari pada kita di dunia ini. Jangan pernah mengecilkan kebaikan yang telah kita terima.
Sebelum “menyeberangkan mata”, lihatlah sekeliling kita, teman-teman kita yang dekat. Apa yang sudah kita berikan kepada mereka? Rasa hormat? Kasih sayang? Apresiasi? Jangan memupuk sikap arogan dan melecehkan . Yang paling mudah memang melihat kekurangan, kemudian mengeluh bahkan mencaci. Sementara kebaikan, yang mungkin lebih banyak tetapi tidak pernah terutarakan, jarang mendapat pujian.
Bila melihat kekurangan, bantulah dengan cara yang baik. Yang kurang harta, bantu dengan harta. Yang kurang ilmu, bantu dengan ilmu. Jangan jadi orang yang selalu menuntut kebaikan dari orang lain, tetapi jarang memberi kebaikan pada yang lain. Jadilah sumber kebaikan bagi siapapun dengan cara yang baik pula.
Teruslah berbuat baik,lillahi ta’ala.
Ditulis dalam Renungan | Leave a Comment »
Ditulis oleh iponghp di/pada Juli 4, 2009
Bagian 1
CEO sebuah perusahaan tertentu dihadapkan pada suatu masalah yang sudah sering muncul, yaitu pengurangan pegawai.
“Kita harus memotong daftar gaji hingga separuh,” dia menjelaskan kepada asistennya, “Tapi, bagaimana aku bisa memastikan bahwa orang-orang yang dipecat tidak akan kembali dengan senjata di tangan? Ada banyak kejadian semacam itu, kamu tahu.”
“Tidak masalah,” sahut asistennya, yang lebih tahu tentang logika maupun psikologi manusia. “Jangan memecat siapapun. Biarkan mereka mengundurkan diri sendiri. Dengan cara itu, mereka tidak bisa menyalahkan anda. Biar saya yang menangani ini.”
Asisten itu memanggil setiap pegawai ke kantornya, satu demi satu. Ketika setiap pegawai masuk, asisten tersebut menjelaskan bahwa di atas mejanya ada dua buah amplop. Yang satu berisi surat pemberhentian, sementara yang satu lagi berisi perpanjangan kontrak.
“Yang harus kaulakukan,” katanya kepada setiap pegawai sambil mengedipkan matanya, ‘adalah mengambil amplop yang tepat.”
“Bagaimana saya tahu amplop mana yang harus diambil?” pegawai itu bertanya.
“Sederhana. Baca saja apa yang tertulis pada amplop.” Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Permainan | Leave a Comment »
Ditulis oleh iponghp di/pada Juli 3, 2009
Ingin aku memilikimu,
Tidak hanya senyummu yang begitu manis menawan,
Bukan hanya tutur katamu yang mengalun lembut,
Tidak pula hanya keindahan wajahmu yang selalu merona,
Namun semua yang engkau punyai,
Segala yang ada pada dirimu,
Semua itu karena sinar pribadimu yang terpancar tulus dan apa adanya.
Ingin aku selalu ada di dekatmu,
Seakan tidak ingin melepasmu walaupun dalam sekejap mata,
Seperti takut akan ketinggalan satu tarikan nafas kehidupanmu,
Menjagamu seolah tidak rela akan tergoresnya kulitmu yang halus,
Serasa awan yang selalu mendekap rembulan di waktu malam.
Itulah angan yang aku lamunkan,
Ketika berdiri di suatu malam yang gelap, Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam puisi | 1 Komentar »
Ditulis oleh iponghp di/pada Juli 2, 2009
Berbekal kumpulan tutup botol yang disusun sembarang,
Berkain kumal yang melekat di badan,
Bersandal kulit di atas panas aspal jalanan,
Berharap koin cepek dari tuan yang lewat.
Anak jalanan, anak yang malang,
Mencari uang untuk makan sekali.
Anak jalanan, anak yang tenang,
Tuan tidak memberi, masih ada yang lain.
Anak jalanan, memang anak jalanan,
Teman sebaya belajar di sekolah untuk hidup nanti,
Anak jalanan hidup sekarang di jalanan ramai,
Hidup nanti jangan dipikir sekarang.
Ditulis dalam puisi | Leave a Comment »
Ditulis oleh iponghp di/pada Juli 1, 2009
Gaung takbir kemenangan masih terngiang,
Di kedua relung telinga ini,
Dan gema takbir itu masih menggelora,
Merasuk dalam hati sanubari,
Mengiringi suasana hati yang bersyukur,
Telah menjalankan yang wajib selama sebulan,
Insya Allah ridho Allah dapat menyertai orang yang bertaqwa dalam setiap langkah kehidupan, yang selalu mengagungkan asma-Nya setiap saat.
Di tengah luapan kegembiraan itu,
Manusia tak bernama itu masih belum menemukan dirinya,
Masih mencari jati dirinya,
Di antara reruntuhan bangunan jiwa yang pernah kokoh berdiri,
Yang telah dibangun dengan kekuatan hati yang suci,
Yang telah dipoles dengan kejernihan pikiran,
Yang akhirnya perlahan digerogoti oleh derasnya terpaan angin kehidupan,
Yang kini telah hancurkan topangan suci,
Hanya tinggalkan kepingan jiwa,
Lebur dalam debu kenangan.
Manusia itu masih terseok dalam pencariannya,
Mengkais-kais dalam panasnya bara serpihan,
Mencongkel-congkel di antara puing-puing ketentraman yang selalu diharapkan,
Dengan selalu menggunakan tongkat keyakinan,
Bahwa serpihan itu akan bisa menjadi puing,
Dari puing akan dibentuk bongkahan,
Kemudian bongkahan disatukan kembali menjadi bangunan,
Bangunan yang lebih kokoh pondasi keyakinannya,
Menjaga dari deburan ombak prahara yang mungkin datang.
Manusia tak bernama itu masih terus mencari,
Mencoba temukan serpihan yag paling kecil,
Yang paling kuat,
Yang paling keras,
Di tengah deru nafasnya yang menderu,
Karena usia terus mengejarnya.
Dan manusia itu masih terus mencari,
Mencari sampai nanti.
Ditulis dalam puisi | 2 Komentar »
Ditulis oleh iponghp di/pada Juni 25, 2009
This night, I become the queen,
The only one that 22 people are hunting me,
From side to other side,
By kicking, heading or catching,
Yes, I am the ball, and I am the queen.
Gool is the player’s goal,
More gool to other field, more money and proud to be received,
No gool to other, it seems the loser is coming,
Oh don’t keep the gool far away from me,
I like gool, I like gool so much.
I am the ball, I am the queen,
but my team become a loser tonight, oh.
(catatan: Weh di Piala Konf Afsel 2009, favorit Spanyol kalah juga sama USA, 2-0 lagee)
Ditulis dalam selingan | Leave a Comment »
Ditulis oleh iponghp di/pada Juni 24, 2009
Umurku lebih dari setengah abad,
Berbalut kulit kering, hitam terbakar matahari,
Bertulang besar, namun tak berdaging subur,
Berselimut baju kucel, berhiaskan noda tak terhapuskan,
Bersandal jepit, pelindung dari panasnya bumi.
Bila kewajiban sholat Shubuh telah usai kujalani,
Kaki melangkah menyusuri jalanan sepi,
Ditemani gelapnya jalan di sekitar gubukku,
Meloncati batu yang berserakan, menghindari kubangan air yang menghadang,
Menuju jalanan setapak kampung yang diterangi cahaya lampu secukupnya,
Sampai di perempatan jalanan besar sebagai labuhan terakhir,
Tempat harapan kepada semua yang lewat menysihkan uang recehnya.
Matahari sudah menunjukkan keperkasaannya,
Memberikan panas yang dibutuhkan oleh sebagian orang saat itu,
Sejenak aku merapat di keteduhan yang ada,
Sekedar melepas rasa lelah yang mendera,
Menunggu berkurangnya keringat yang mengucur. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam puisi | Leave a Comment »
Ditulis oleh iponghp di/pada Juni 22, 2009
Angin itu kembali menerpa wajahku,
Mengusir butiran air mata yang bergulir pelan,
Mengeringkan kornea mata yang memerah,
Kilasan dari tangisan yang terkuak dari dalam,
Melihat kumpulan tubuh yang tak berdosa saling menumpuk.
Sejenak hati ini menghayati keadaan yang baru lewat,
Menyaksikan sumringahnya wajah-wajah tubuh tak bernyawa itu,
Tak menghiraukan jalan jauh yang ditempuh,
Tak perhatikan hawa panas di sekeliling,
Tak peduli harus berdiri berdempetan,
Demi sesuatu yang sangat dibutuhkan.
Begitukkah jalan kehidupan yang harus dilalui,
Sesuatu yang sangat langka ada dalam genggaman,
Sesuatu yang menjauh setiap didekati dengan usaha keras,
Sesuatu yang sulit untuk dijangkau,
Namun juga sesuatu yang sangat mudah didapat bagi sebagian,
Bahkan sesuatu yang bisa tidak berarti bagi yang lain.
Memang sesuatu itu jadi harapan semua orang yang berkumpul di sini,
Menanti penuh harap, segera mendapat jatah untuk mengambilnya,
Menunggu penuh cemas karena rombongan di belakang yang mulai tidak sabar.
Wajahku kembali tersapu oleh angin yang lewat,
Menyadarkanku akan betapa tipis dan singkatnya waktu yang aku lalui,
Dari sebelumnya gerombolan orang berjubel,
Sampai akhirnya hanya jasad yang tertinggal.
Akupun berdoa untuk mereka semua,
(catatan: dibuat setelah kejadian memilukan pada 15 September 2008)
Ditulis dalam puisi | Leave a Comment »